Pesona Pulau Saronde

IMG_4128
Pulau Saronde

Kalau ada yang bertanya tentang wisata bahari di Sulawesi, mungkin banyak orang yang menjawab Bunaken, Lembeh, atau Wakatobi. Jarang sekali ada yang menjawab Gorontalo. Padahal keindahan laut Gorontalo tidak kalah dengan tempat lain. Setelah Taman Laut Olele, kali ini giliran Pulau Saronde yang berhasil membuat saya berucap sekali lagi “Aah..beruntungnya saya tinggal di Indonesia”. Pulau Saronde hanyalah satu dari tiga pulau yang tergabung dalam Kepulauan Saronde. Dua pulau lainnya adalah Pulau Bugisa dan Pulau Mohinggito.

Kepulauan-Saronde
Kepulauan Saronde (Sumber)

Saya dan Cemon memutuskan untuk menghabiskan hari keempat kami di Gorontalo dengan mengunjungi Pulau Saronde. Dari Grand City Hotel, kami menyewa Bentor menuju pangkalan angkot yang menuju Pelabuhan Kwandang. Perjalanan dari Kota Gorontalo ke Pelabuhan Kwandang dengan menggunakan angkot memakan waktu sekitar kurang lebih 2 jam dengan biaya Rp.25.000/org. Sesampainya di Pelabuhan Kwandang, kami menyewa perahu katinting tradisional dengan kisaran harga Rp.300.000 – 400.000,- PP. Perahu ini bisa memuat hingga 10 orang, tapi karena kami hanya berdua ongkos perahu jadi terasa mahal :D. Hanya butuh 40 menit dari Pelabuhan Kwandang, kami sampai di Pulau Saronde dan disambut dengan hamparan pasir putih yang sangat indah.

IMG_4091IMG_4189IMG_4146IMG_4142IMG_4165IMG_4197

Jika ada pengunjung yang ingin menginap, Pulau Saronde memiliki fasilitas penginapan yang unik. Ya, penginapan di atas air. Saat kami kesana, penginapan masih dalam proses pembangunan. Tapi sepertinya saat ini penginapan tersebut sudah dapat disewa. Untuk reservasi mungkin bisa cek disini: http://sarondeislands.com/

IMG_4123IMG_4117

Cakep kan? kan? kan? Hahahaha. Sayang aja kami disini cuman sehari :(. Oiya, jadi inget, nama Pulau Saronde ini pun dijadikan nama Pia, makanan khas Gorontalo yang biasa dibeli untuk oleh-oleh. Sekedar info, kalau mau beli Pia Saronde, tokonya ada di Jl. Sultan Botutihe 29 Kota Gorontalo Depan Gorontalo Mall, Kota Gorontalo. Kalau takut nyasar, bisa sewa bentor dan bilang saja minta diantar ke Pia Saronde. Saya juga sempat membeli Pia merk lain yang tokonya berada disebelah hotel tempat saya menginap. Menurut saya justru pia yang merk lain itu lebih enak jika dibandingkan dengan Pia Saronde. Tapi, balik lagi ke selera masing-masing ya.

4 Jan 2016, kami kembali ke Jakarta. Seperti keberangkatan kemarin, penerbangan Gorontalo – Jakarta harus transit dulu di Makassar. Alhamdulillah kami tiba dirumah dengan selamat. Semoga lain waktu masih bisa menikmati lukisan Alloh yang luar biasa. Aamiin. Ok, berikut ini ada informasi yang mungkin berguna bagi traveller lain yang ingin berkunjung ke Gorontalo, saya comot dari blognya Cemon:

  1. Penerbangan dari jakarta ke Gorontalo, dilayani oleh beberapa maskapai. Tempo waktu saya ambil direct flight dengan garuda transit 30 menit di makassar.
  2. Di Gorontalo ada dua Operator Diving; salah satunya adalah Miguel’s Diving. Miguel’s adalah operator lama di Gorontalo, pemiliknya bernama Rantje Allen. Saya sangat recomen operator dive ini..
  3. Ada banyak penginapan dikota ini, tempo waktu saya menginap di Grand City Hotel. Kamarnya nyaman, dan dekat dengan pusat kota.
  4. Transportasi yang paling banyak dan sering digunakan adalah Bentor (becak Motor). harga untuk jarak terdekat adalah Rp. 5000 untuk jarak menengah biasanya sekitar Rp. 15000.
  5. Umumnya penduduk disana sangat ramah dan baik sekali. Bagi mereka pendatang yang berkunjung ke Gorontalo adalah keluarga jauh yang mengunjungi mereka, sehingga mereka akan membantu dan menjamu dengan senang hati.
  6. Oleh-oleh khasnya adalah Kue PIA. Tokonya ada di seberang Mall Gorontalo. Satu kotak Isi 10 buah harganya Rp. 40.00. Bila mau beli kain karawung, bisa langsung ke pengrajinnya atau ke pasar lama. ada beberapa kios yang menawarkan, kisaran harga dari Rp. 55.000 sampai dengan ratusan ribu. Tinggal pilih.
Advertisements

Gorontalo, Hidden Paradise

IMG_3924

Mungkin sudah banyak yang tau kalau Aceh mendapat julukan “Kota Serambi Mekkah”. Lalu bagaimana dengan “Kota Serambi Medinah”? Kota mana yang mendapat julukan tersebut? Ya, Kota Gorontalo. Ibu Kota Provinsi yang ke-32 di Indonesia ini juga biasa disebut Hulontalo oleh masyarakat setempat. Sebelumnya, Gorontalo termasuk dalam Provinsi Sulawesi Utara. Namun pada tahun 2000, Provinsi Gorontalo yang terdiri dari Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo terlepas dari Sulawesi Utara.

Untuk kesekian kalinya, saya teracuni oleh ajakan Cemon untuk menghabiskan liburan akhir tahun sekaligus tahun baru di Gorontalo. Awalnya sih saya ga tertarik untuk pergi ke Gorontalo. Emang apa bagusnya sih? Cuuusss…mulai browsing sana sini. Daaaan….kok cakep yah, gimana kalau lihat langsung? Yooook…mon, berangkat kita. Satu lagi yang buat saya demen banget jalan ama Cemon, karena doi kalau bikin rencana tuh keren banget. Transportasi, penginapan dan nanti disana mau ngapain aja, semua udah diatur. Pokoknya saya cuman tau beres aja, hehe.. Nuhun yak, Mon :).

Kamis, 31 Des 2015, saya dan Cemon berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pukul 07:15am dan tiba di Bandar Udara Jalaluddin pukul 01:00pm dengan sebelumnya transit di Makassar kurang lebih 30 menit. Lalu kami dijemput oleh staf dari Miguel’s Diving dan langsung menuju ke penginapan kami di Grand City Hotel. Setelah istirahat, kami sempat jalan-jalan dan mencoba bentor alias becak motor yang merupakan alat transportasi yang mirip dengan becak tapi menggunakan sepeda motor, bukan sepeda seperti yang sering dijumpai di Jakarta.

bd4bd49fa4602f055ec5d8426932625f.jpg
Dari senyumnya Cemon bisa ketahuan, betapa senangnya dia bisa jadi endorse bedak fifa mencampakan si pemilik bentor :))

Keesokan harinya kami dijemput oleh sang Dive Master dan pemilik Miguel’s Diving, Rantje Allen. Agenda kami hari ini cukup padat dengan 3x dive dan makan siang dilakukan di tengah laut. Oiya, yang diving saat itu tidak hanya kami berdua, tetapi ada satu rombongan lain, diver dari Malaysia dan juga Singapore yang akan bergabung. Di hari berikutnya aktivitas kami masih diisi dengan diving, namun kami hanya melakukan 2x dive. Taman laut Olele yang menjadi destinasi kami memiliki beberapa dive spot seperti  Sand Bowl, Otje Garden, Jin Cave dan spot lain yang saya lupa namanya :D.

IMG_3829IMG_3739IMG_3477IMG_3482IMG_3642IMG_3552IMG_3539IMG_3519IMG_3518IMG_3488IMG_3896IMG_3806

Selama 2 hari diving, kami tidak hanya ditemani oleh Rantje saja, tetapi ada Bang Yunis dan Boka. Mereka sangat membantu kami saat dibawah dan selalu mengawasi peserta diving. Sebelum menyelam, Rantje selalu memberikan instruksi yang sangat jelas. Bang Yunis tidak hanya mendampingi kami menyelam, beliau juga memiliki ilmu dan skill photography yang waw, sehingga sering membantu dan memberikan masukan kepada para penyelam yang hobi micro underwater photography. Bang Boka ini yang membantu saya saat saya mengalami kesulitan saat menyesuaikan bouyancy, eh ternyata kurang pemberat pemirsaah. Udah gitu Bang Boka juga yang nemenin saya ketika buddy saya yang tidak lain adalah Cemon MENGHILANG!! Ternyata dia udah ke surface duluan -,-“

Dua hari diisi dengan aktivitas diving rasanya ga cukup. Perairan yang tenang, ragam biota laut yang begitu kaya, serta pemandangan bawah laut yang luar biasa bikin betah lama-lama disana. Aah..beruntungnya saya tinggal di Indonesia. Keesokan harinya, kami pergi ke Pulau Saronde. Ada apa disana? Tunggu next post saya ya 😀

Miguels diving

Alor, NTT (Part 2)

Hari 4

Loh? Udah hari keempat ajah? Hehehe, untuk cerita sebelumnya ada disini.

Seperti pendapat beberapa orang bahwa Alor tidak hanya cantik bawah lautnya saja, tetapi semuanya bagus. Setelah 2 hari kemarin kami habiskan dilaut, hari ini kami diajak oleh Mba Wati ke beberapa tempat. Pemandian Air Panas Tuti Adagae menjadi destinasi pertama kami. Tempat ini merupakan sumber air panas alami dan dipercaya kalau air panas ini dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Tapi, untuk sampai ke mata air panasnya, kami harus berjalan cukup jauh, karena belum ada jalan yang bisa dilewati oleh mobil.

DSCF5057
Lokasi ini jadi titik start kami berjalan kaki menuju tempat pemandian air panas
DSCF5080
Jalannya menurun dan ga ada cowo ganteng atau batang pohon yang bisa dijadiin pegangan hidup
DSCF5108
Nah, sebelah kiri udah mulai keliatan aliran air panasnya
DSCF5150
Hore sampeeeee
DSCF5112
Air panasnya menyembur dan uap panasnya aduhai deh, bisa buat sauna
DSCF5146
Ga ada yang kuat lama-lama berdiri disekitar sumber air panas T_T
DSCF5237
Seger banget Dina & Gede, kelapa nya loh maksudnya
DSCF5233
Sebelum pulang, sempet poto2 dulu. Siapa lagi yang niat bawa balon -,-“

Selanjutnya kami diajak ke Desa Takpala oleh Mba Wati. Di desa ini terdapat rumah-rumah tradisional yang dihuni oleh Suku Abui. Disini kita dapat menyewa pakaian tradisional Suku Abui dengan membayar Rp.50.000,-/orang. Tidak hanya itu, para tetua adat yang kami jumpai pun tidak segan berbagi cerita dengan kami mengenai kehidupan Desa Takpala yang oleh pemerintah saat ini sudah disahkan menjadi Desa Wisata.

IMG_3199IMG_3141DSCN0651IMG_3178

Di Desa Takpala, pengunjung dapat membeli berbagai buah tangan khas Suku Abui seperti kain tradisional yang mereka tenun secara tradisional dan beberapa aksesoris seperti gelang, kalung dan gantungan kunci.

IMG_3114IMG_3124IMG_3126IMG_3136

Karena hari pun sudah sore, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Pantai Pasir Putih untuk liat sunset. Ah, gimana ga jatuh cinta, sepanjang jalan disuguhin pemandangan laut dan pantai yang cantik, tiap sore dikasih liat golden sunset yang luar biasa. Jadi pengen balik lagi. Someday ya. Aamiin.

f

DSCN0811IMG_3305IMG_3324IMG_3329DSCN0852DSCN0836


Hari 5

Saatnya kembali kerumah setelah senang-senang di Alor. Perjalanan pulang dari Alor ke Kupang, langsung lanjut Kupang – Denpasar – Jakarta. Alhamdulillah kami semua selamat sampai rumah masing-masing. Semoga lain waktu masih dikasih rezeki dan waktu sama Alloh untuk bisa explore bumi Alloh lainnya.


Oiya, berikut informasi mengenai akomodasi dari Jakarta ke Alor. Saya salin dari blognya Cemon nih:

  1. Dari Jakarta Ambil Penerbangan ke Kupang, lalu lanjut penerbangan ke Alor. Ada dua maskapai penerbangan yang melayani rute kupang – alor, yaitu Wings Air dan Trans Nusa. Atau kalian bisa naik ferry dari kupang dengan waktu tempuh 12 Jam. Untuk harga tiket pesawat, saya cantumkan di bawah ya.
  2. Nginep dimana? Di kalabahi banyak penginapan, namun belum ada yang sekelas bintang-bintang. Kemarin saya menginap di Pelangi Indah sehari perorang kena Rp.275.000. Di dekat alun-alun ada homestay yang baru buka, 1 kamar pakai AC semalam perorang kena Rp. 130.000
  3. Operator Diving di alor umumnya di kelola oleh Bule, dan mereka agak sedikit ketat. Meraka hanya mau membawa para diver advance dikarenakan arus alor yang cepat. Kemarin saya dive dengan Bang Mansyur (085318278899)
  4. Untuk Guide lokal dan sewa kapal bisa hub Sam ( 082237878578).

Jumat, 29 Mei 2015 –> Jakarta – Kupang –> 15.45 – 21.10 (Garuda)        Rp.1.475.000,-

Sabtu, 30 Mei 2015 –> Kupang – Alor –> 07.00 – 07.50 (Transnusa)  Rp.   483.000,-

Selasa, 02 Juni 2015 –> Alor – Kupang –> 13.40 – 14.40 (Lion Air)      Rp.   450.000,-

Selasa, 02 Juni 2015 –> Kupang-Denpasar- Jkt–> 16.15 – 20.25 (Garuda) Rp.2.374.000,-


TOTAL   Rp.4.782.000,-

Alor, NTT (Part 1)

Oke, ini pun latepost :(. Ternyata jadi mahasiswi S2 itu tugasnya sekebon T_T *mulaicarialibi hahahaha. Baiklah, yuk lanjut. Jadi, tahun kemarin, saya bersama segenap tim trip ambon tapi minus Amel tapiii plus Dina pergi ke Alor. Seperti trip-trip sebelumnya, saya berhasil diracunin sama cemon buat ke Alor. Gimana ga, tiap hari dicekokin foto-foto cakepnya pemandangan bawah laut Alor. Maaaaak…ga tahan! Mei 2015 saya bersama cemon, gede, sapi, dan dina akhirnya kesampean juga mengunjungi Alor. Sebelumnya, saya ga tau Alor itu dimana, I failed maps :D. Ternyata, Alor itu salah satu pulau yang  termasuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur, posisi Pulau Alor itu sendiri berada di atas kota Kupang. Yang masih bingung kaya saya, nanti saya kasih petanya ya:

Capture

Alor memiliki nama yang pendek hanya empat huruf tetapi keindahan di darat dan di bawah lautnya sangatlah panjang bahkan tak cukup satu minggu untuk menggapainya. Berlokasi di bagian timur Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebuah tempat dengan kekayaan bawah laut yang mengagumkan meski belum tersohor. Akan tetapi, para penyelam yang pernah menjajalnya menceritakan dari mulut ke mulut bahwa keindahan Alor tak kalah indah seperti Raja Ampat atau Taman Nasional KomodoKarl Muller dalam bukunya “East of Bali”, menyebutkan bahwa Alor memiliki air laut yang bersih, biota laut yang beraneka ragam, dan terdapat titik-titik selam yang dapat dinikmati pada malam hari. Ia menyebut Alor sebagai taman laut kelas dunia (Sumber).

Hari 1

Memang akomodasi menuju Alor masih agak sulit. Untuk penerbangan dari Jakarta ke Alor belum ada yang langsung, jadi harus lewat Kupang. Kami berangkat dari Jakarta tanggal 29 Mei 2015 pukul 15.45 dan tiba di Kupang pukul 21.10. Karena sudah malam dan penerbangan ke Alor adanya keesokan harinya, jadi kami menginap di Hotel La Hasienda. Hotelnya tuh nyaman banget dan lokasinya ga jauh dari bandara. Sayang kami hanya semalam saja disini.

Hari 2

Lalu esok paginya kami berangkat ke Alor dengan waktu tempuh Kupang – Alor kurang lebih 50 menit. Setibanya di Alor, kami dijemput oleh Mba Wati dari 8elapantrip dan langsung menuju penginapan di Kalabahi. Kalabahi adalah ibukota Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

IMG_3379

Hari pertama di Pulau Alor, NTT kami isi dengan aktivitas snorkling dan jelajah pulau-pulau yang ada di sekitar Alor Besar. Dari hotel, kami menuju pelabuhan dengan waktu tempuh kurang lebih 15-20 menit menggunakan mobil. Baru sampai pelabuhan aja udah pada girang banget :)) pemandangannya cakeeeep.

DSCF2087
Gede, Sapi. Cemon, Cahe, Dina

DSCF2113DSCF2093

DSCF2106
Kodok loncat

Dari pelabuhan, kami menggunakan kapal yang sudah disewa oleh Mba Wati bersama Bang Mansyur dan Sam sebagai ABK untuk mengunjungi Pulau Sebanjar untuk snorkling.

DSCF2120
Atas: Sam; Bawah: Dina, Cahe
DSCF2127
Formasi lengkap aheeey \(^o^)/
DSCN0462
Yuuk, yang mau ke Alor, bisa lewat 8elapantrip yaaah.
DSCN0454
Siap-siap nyemplung

DSCN0479DSCN0444

DSCN0313
Transaksi di bawah laut 😀

DSCN0384

DSCN0553
Sam’s in action

DSCN0555DSCN0448DSCN0381DSCN0343DSCN0328

Huaaa…bening banget. Pantes aja banyak yang bilang kalau Alor itu terkenal dengan crystal water nya. I believe that.

DSCN0505DSCN0525

DSCF4082
Dina
DSCF4024
Sapi & Gede
DSCF4169
Susah yee, cewe-cewe klo udah ngumpul mo dmn kek tetep aj rumpi

DSCF4140

Hari 3

Nah, karena kemarin rasanya kurang puas cuman snorkling aja, jadi setelah minta tolong sama Bang Mansyur, saya sama cemon bisa diving deh. Sebenarnya ada operator dive di Alor, cuman udah keburu full, tapi bukan Bang Mansyur namanya kalau ga bisa bikin mimpi saya buat diving di Alor jadi kenyataan #tsaaahelaaaah. Oiya, karena baru saya dan cemon aja yang punya diving license, jadi sisanya masih lanjut snorkling. Kami pun di ajak ke Pulau Ternate sebagai lokasi untuk diving.

IMG_0313IMG_0302IMG_0299IMG_0345DSCN0570DSCN0602

IMG_0307
Ini namanya Bubu, alat tradisional suku Alor untuk menangkap ikan

Selesai diving, kami diajak oleh Mba Wati untuk istirahat di Pulau Kepa. Judulnya sih istirahat, tapiiii…we took so much pictures there

DSCF4205DSCF4241

Ada kejadian yang agak serem ketika kami akan kembali dari Pulau Kepa ke Kalabahi. Di tengah-tengah laut, kapal yang kami tumpangi mogok. Sam dan Bang Mansyur sudah berusaha untuk ngebenerin mesin kapal, tapi masih ga bisa juga :(. Tiba-tiba, arus laut terasa semakin kenceng, kapal mulai goyang ga karuan. Lalu muncul instruksi dari Mba Wati supaya kami menggunakan pelampung/life vest. Sapi sama Gede yang paling panik saat itu, mulut komat kamit baca do’a sama dzikir. Lalu, tiba-tiba aja Mba Wati dan Sam saling tunjuk ke arah laut, ternyataaaaa….ada hiu yang mendekat ke kapal kita. Ya Alloh, mesin kapal mati, udah gitu ada hiu T_T. Alhamdulillah, setelah si hiu muterin kapal kita, eh itu hiu langsung aja lanjut pergi. Sempet kepoto sih sirip hiunya, tapi lupa di kamera siapa. Dasar manusia jaman sekarang, lagi begitu pun ga lupa loh buat poto2 :D. Daaaan, kami berhasil sampai ke pelabuhan dengan cara kapal kami ditarik sama kapal lain yang datang *sujudsyukur

DSCF5052
Ketika bala bantuan datang

Sesampainya di pelabuhan, eh pas senja, liat sunsetnya luar biasa.

DSCF4387DSCF4429

Untuk perjalanan hari berikutya, saya share di post selanjutnya yaa, biar yang ini ga kebanyakan. See y ^^

Dataran Tinggi Dieng

Well, this post is definitely a really really late post. Saya dan beberapa teman saya mengunjungi Dataran Tinggi Dieng pada April 2015. It’s 2016 now!! :D. Yaaah…walaupun udah keburu basi gapapa deh yah, siapa tahu tetep ada manfaatnya #ngeles.

Gara-gara gatel liat hari libur yang berentet di kalender, tapi kok ya belum ada rencana buat kemana gitu. Nanya tim ambon ternyata mereka juga sama, ga ada rencana buat keman mana.  Duuuh…tapi kaki udah gatel mau jalan-jalan. Finally, saya samperin deh si anak gunung. Murah banget deh pokoknya, demi kesampaian jalan-jalan, saya mau ikutan travelling ala-ala si anak gunung. Padahal seumur hidup belum pernah yang namanya naik gunung. Eh, pernah deng, gunung mas di puncak ama yang di cibodas ga tau namanya apa :D. Akhirnya tercetus lah ide buat pergi ke Dieng. Itu dimana? Hahahaha. I had no idea that time. Manfaatin internet kantor buat cari informasi mengenai Dieng. Cakep-cakep ya fotonya. So, lets go…

Tim Dieng kali ini terdiri dari saya sendiri, cemon, sapi, dan akmal si anak gunung yang bakalan jadi centengnya. Sebenarnya ada satu orang lagi yang rencananya mau gabung sama kami, tapi pas hari H doi kena musibah, jadi batal ikut deh.

Ternyata Dieng Plateau berada pada ketinggian 2093 mdpl, terletak di antara dua kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo (sumber). Setelah baca-baca beberapa informasi mengenai Dieng, udah kebayang kesana naik apa, nanti mo ke tempat wisata apa aja, dan pulang naik apa. Kami mutusin buat naik bis dari Jakarta menuju Dieng. Tapi pas ditelepon, tenyata tiket bis hanya bisa dibeli pas hari keberangkatan. Ya udah gpp, toh kami juga baru akan berangkat hari kamis malam setelah pulang kantor. Jadi rabu malam kami packing, kamis pagi ketika berangkat ke kantor udah bawa ransel dan segala keperluan buat ke Dieng.

Manusia hanya berencana, Alloh lah yang menentukan #tsaaahelaaahhh. Pas hari H mau beli tiket bis dengan inisial D, ternyata jam keberangkatan nya ga cocok T_T. Akhirnya coba ganti ke bis SJ, eh sama juga TT___TT. Mana udah kadung bawa ransel beserta perintilannya, kan malu kalo sampe ga jadi berangkat. Akhirnya centeng berbicara, katanya kita nekat aja ke Terminal Rawamangun, pasti ada kok bis kesana. Yoweslah, turutin aja apa kata centeng kali ini.

Meeting point keberangkatan buat ke Dieng adalah Terminal Rawamangun. Saya sama si centeng berangkat dari kantor naik taxi buat ke terminal. Mana ujan, becek, macet. Cemon sama sapi ternyata udah janjian buat ke terminal bareng. Saya sama centeng nyampe duluan, langsung nanya-nanya tiket bis, nego sana sini, sampe akhirnya kebeli lah 4 tiket Bis Handoyo. Alhamdulillah yah. Akhirnya, boleh deh bikin status “Dieng, We’r coming” hakhakhak.

Kan dari informasi yang saya dapat, perjalanan ke Dieng itu kurang lebih 8 – 10 jam, nah karena kami berangkat jam 9 malam dari Terminal Rawamangun, kemungkinan besok pagi udah sampe. Tapiiiii….ini udah lebih 8 jam kok ya ga nyampe-nyampe. Mana dimana-mana macet. Yaah, namanya juga long weekend, pasti banyak yang liburan atau pulang kampung, jadi ya macet deh dimana mana. Udah gitu AC bis ga berasa, asli gerah.

Setelah sempat berhenti buat sarapan #popmie kami lanjut lagi. Eh eh tapi yah, bis nya mogok pemirsah T_T. Duuh..mana jarak ke tujuan masih lumayan jauh. Akhirnya setelah tanya-tanya ke penumpang lain, kami memutuskan buat naik angkot, karena ga bisa dipastiin itu bis bakalan mogok sampe kapan. Angkot yang kami naikin ini ternyata disebutnya mikro, mirip dengan metromini, cuman mikro ukurannya lebih kecil. Kami naik mikro sampai di parakan. Karena udah siang, kami makan siang dulu di parakan. Abis itu lanjut lagi naik angkot buat ke Dieng. Alhamdulillah ada mas-mas yang bantuin dan ngasih tau kami angkot yang harus kami naikin buat ke Dieng.

DSC_1605
Nyarap popmie #bukanendorse
DSC_1606
Bisnya mogok T_T
CSC_1644
Korban bis mogok

Sampeeee..hore sampeee. Beneran udah sampe nih. Pas liat jam, jam 4 sore. Berarti total perjalanan Jakarta – Dieng 18 jam. WOW!!

Ehiya pas tadi naik angkot, kami ternyata penumpang terkahir dong. Hahahaha..kan karena kami belum pesen penginapan, jadi ya pasrah deh mau diturunin dimana sama si Bapak angkotnya. Eits tapi tunggu dulu, centeng mulai beraksi, ngajak ngobrol si Bapak angkot, tanya penginapan dimana? Tempat makan dimana? Bapak tinggal dimana? Punya anak cewe cantik yang masih single ga,pak? #eh pertanyaan terakhir ga sempet kesampean karena si angkot tetiba berhenti. Ternyata si Bapak mau nunjukin beberapa penginapan. Udah banyak yang penuh. Tapi Alhamdulillah masih dapet penginapan. Sebenernya sih itu rumah warga, bukan penginapan yang biasa disewa, tapi karena ternyata peak season jadi sang empunya rumah mau menyewakan 2 kamar dirumahnya. Ada kamar mandi dalam juga loh di setiap masing-masing kamarnya. Jadi centeng dikamar sendirian, kami yang cewe-cewe di kamar yang paling depan. Horeeeee…

Sebelum si Bapak angkot nya pulang, kami nanya ke Bapak apa bisa angkotnya kami sewa untuk jalan-jalan selama disini. Teryata si Bapak mau. Dengan harga Rp.500.000,- seharian. Dan besok pagi kami akan dijemput sama si Bapak jam 3 pagi buat liat sunrise.

Ada kejadian yang nyebelin pas di penginapan. Jadi, cewe-cewe kan mau mandi, tapi airnya dingin luar biasa. Eh tapi untung aja dirumah itu ada satu kamar mandi luar yang ada air panasnya. Trus nih yah, si centeng dengan meyakinkannya bilang ke kami kalau mau mandi, jangan pake air panas, pake air biasa aja, jadi biar nanti suhu badan ikut menyesuaikan dengan kondisi dingin disini, jadi kalau udah gitu ntar ga bakalan kedinginan lagi. Dibilangin kaya gitu ya kami yang cewe-cewe nurut aja. Jadilah kami mandi pake air sedingin air es itu. Ya Alloh, asli dingin bener. Pas kami yang cewe-cewe udah selesai mandi, udah cakep, udah wangi, trus mau ke ruangan tengah buat minum teh yang udah disediain sama pemilik rumah, kami nge-gep-in si centeng baru kluar dari kamar mandi luar yang ada air panasnya itu tuh. Jadi dia mandi pake air panas ternyata. Kunyuuuuuk!!!!!!!! Tadi aja bilang ny jangan mandi pake air panas ini itu apa lah segalama macem, tapi sendirinya mandi pake air panas. Diiiih! Kena tipu abis2an ini sih -,-“.

Mari kita lupakan kejadian kejadian nyebelin ituh dengan makan malem yang banyak. Ada nasi goreng, tongseng, pecel ayam. Perut kenyang, tidur pun tenang. Eh ga deng, tidur ga bisa tenang. Ga kuat sama dinginnya T_T.

Jam 2 pagi alarm bunyi. Siap-siap berangkat buat lihat sunrise. Jam 3 si Bapak udah jemput kita di penginapan. Sampe di Bukit Sikunir ramenyaaaa minta ampun >,<. Mo naik ke bukit aja ngantri pake macet. Baru naik beberapa meter tiba-tiba perut saya sakit ga karuan, langsung duduk trus istirahat, sempet kepikiran buat turun aja ga usah jadi naik ke bukit buat liat sunrise. Eh tapi tiba-tiba sakitnya ilang #aneh. Ya udah Alhamdulillah kalo gitu, mari lanjutin perjalanan. Kira-kira dari kaki bukit sampai ke atas itu 1 jam. Pas sampai di atas ternyata lebih rame lagi, udah kaya lautan manusia. Sampe kami bingung mo bikin duduk dan gelar tiker dimana. Ini dia yang ditunggu-tunggu. Sunrise dari Bukit sikunir.

IMG_1724IMG_1733IMG_1766IMG_1770IMG_1781IMG_1789IMG_1793IMG_1823IMG_1874IMG_1899

IMG_1870

Abis liat sunrise, kami turun ke  Telaga Cebong yang berada di kaki Bukit Sikunir. Terletak di desa tertinggi di Jawa yaitu Desa Sembungan, Telaga Cebong merupakan telaga yang terjadi dari bekas kawah purba, dulunya memiliki luas sekitar 18 ha, akan tetapi lama kelamaan mulai menyempit dan tersisa sekitar 12 Ha.Lokasi Telaga Cebong berada disebelah barat  Gunung Sikunir dengan bentuk menyerupai cebong/berudu mungkin dari bentuk itulah akhirnya telaga ini diberi nama telaga cebong (sumber).

IMG_1929
Telaga Cebong

Perjalanan dilanjutkan ke Telaga Warna. Kami sempet sarapan dulu di dekat Telaga Warna. Di beberapa sudut telaga masih ada gelembung-gelembung yang sangat mungkin berasal dari bagian dalam telaga yang merupakan mata air dan sedikit bercampur dengan belerang yang apabila terkena sinar mata hari akan memantulkan cahaya yang berwarna warni, soal penyebab terjadinya warna ini memang masih simpang siur. Ada juga yang mengatakan dikedalaman telaga terdapat sulphur yang apabila terkena cahaya akan memantulkan cahaya yang berwarna warni (sumber).

IMG_1945IMG_1959IMG_1963

Lanjut lagi ke Kawah Sikidang. Nama Sikidang di ambil dari kata “KIDANG” yang dalam bahasa Indonesia berarti Kijang. Binatang ini memiliki karasteristik yg suka melompat2. Seperti hal nya uap air dan lava berwarna kelabu yg terdapat di kawah sikidang ini selalu bergolak dan munculnya berpindah2 bahkan melompat seperti kijang (sumber).

IMG_1972
Kawah Sikidang

Candi Arjuna jadi tempat terakhir sebelum kami kembali ke penginapan. Kompleks Candi Arjuna biasa digunakan sebagai tempat pelaksanaan Galungan. Selain itu, kompleks ini kadang juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan ruwatan anak gimbal (sumber).

IMG_1986
Candi Arjuna

Kami kembali ke penginapan buat mandi dan packing, karena sore nanti kami akan pulang ke Jakarta. Karena macet yang luar biasa ketika berangkat, kami memutuskan untuk pulang menggunakan kerete api dari purwokerto. Sebelum kami diantar sama Bapak ke tempat buat naik bis ke purwokerto, kami sempat nyobain mie ongklok. Kata orang kalo ksini tapi ga nyobain mie ongklok ntar nyesel hahhaha. Mie ongklok itu kalo penampilannya mirip mie aceh tapi rasa jauh berbeda. Penasaran rasa mie ongklok gimana? Yuk jalan-jalan kesini 😀

Setelah makan kami diantar sama Bapak buat naik bis yang ke Purwokerto. Makasih Bapak udah mau nganterin dan nemenin kami selama disini. Sehat-sehat dan semoga banyak rezeki  ya,Pak. Semoga suatu saat bisa ketemu sama Bapak lagi.

 

 

Day 1: Jakarta – Kuala Lumpur – Tokyo

Perjalanan kali ini bisa dibilang modal nekat. Persiapannya sedikit banget. Belum lagi ini adalah perjalanan solo pertama saya. Sebenarnya ga sendirian terus sih, jadi dari 8 hari total perjalanan saya, cuma 5 hari aja yang sendirian. Selama perjalanan saya dari Jakarta – Kuala Lumpur – Tokyo dan selama saya di Tokyo, saya ikut Trip Japan yang diselenggarakan oleh Claudia Kaunang. Nah lepas dari Tokyo, baru deh dimulai solo travelling yang benerannya. Pokoknya selama saya di Kyoto, Takayama, Shirawaka-Go, Osaka dan perjalanan kembali pulang ke Jakarta saya sendirian. Nekat!!!

Saya punya kenalan baru nama ny Mba Lucy. Saya kenal dia via email. Jadi waktu itu saya terima email dari Mba Lucy yang ngajakin beli tiket pesawat barengan untuk ke Jepang. Nah dari situ kita jadi sering email-emailan, terus tukeran pin BB. Pas bikin visa juga saya barengan sama Mba Lucy. Waktu itu Mba Lucy ngasih info ke saya kalau lagi ada promo tiket murah dari Air Asia. Terus saya langsung nanyain kode penerbangan Air Asia yang Mba Lucy udah beli. Akhirnya saya ikutan beli tiket Air Asia yang sama dengan Mba Lucy. Tapi baru tiket perginya aja. Tiket pulang masih belum beli karena masih belum ketemu tanggal fix nya.

20150125_073259
Saya dengan Mba Lucy di Terminal 3 Soekarno Hatta Airport

Jadi tuh udah niat banget minjem tas ransel (carrier) yang biasa dipake buat hiking sama teman kantor. Mana gede banget lagi itu tas, katanya sih kapasitas ny bisa sampe 75 liter. Bawanya aja dari rumah ke kantor butuh perjuangan #lapkeringet. Eh tapi saya juga minjem tas ransel lain yang lebih kecil sama temen kantor juga (minjem mulu! Ga modal! Emaaang). Ya gimana, kan saya ga punya tas ransel yang ukurannya besar, mo beli ga sempet (padahal ga ada uang sih), ya jalan keluarnya minjemlah :))

Malem sebelum hari keberangkatan, saya sibuk packing. Bawaan sih sebenernya ga banyak, cuma tebel-tebel, kan di Jepang lagi winter. Coat 2 buah aja pas digulung2 tebelnya sama kaya bantal dirumah hahaha. Kelar packing, akhirnya saya pake tas ransel (carrier) temen saya yang 75 liter itu. Yes, yang gede banget itu tuuuh. Horee, packing kelar, mari tidur. Eh bentar dulu, pas liat-liat tiket dan email essential dari penyelenggara Trip Bareng CK baru deh ngeh. Kalau saya bakalan sampai di Haneda, Tokyo sekitar pukul 10.30 malam. Dan subway/kereta dari Haneda Airport ke Penginapan itu terakhir jam 00.00. Weeeks..akhirnya saya packing ulang dong. Kenapa? Soalnya kan saya pake carrier yang 75L tuh, pasti masuk bagasi, ga mungkin boleh dibawa ke cabin pesawat. Nah klo saya mesti nunggu bagasi dulu pas sampe di Haneda, takut ga keburu ngejar subway/kereta. Kalau ga keburu ngejar subway/kereta saya harus menginap di Haneda, karena besok pagi subway/kereta baru mulai beroperasi lagi. Kenapa ga naik taxi? Karena eh karena, ongkos taxi di Jepang itu MAHAL sodara-sodara. Iyesss, dari Haneda Airport ke Asakusa (daerah hotel) bisa sekitar  Rp.700.00.- Ya udah deh, sebenernya ga ikhlas sih harus packing lagi. cape!! Tapi ya udah deh daripada ga kekejar tuh subway/kereta dan harus ngeluarin uang Rp.700.000,- (sumpah ga ikhlas!) Hasil dari packing ulang adalah saya bawa 1 tas ransel sama 1 koper kecil. Alhamdulillah bisa masuk cabin dua-duanya.

Tanggal 25 Jan 2015 pagi saya janjian sama Mba Lucy di Terminal 3 Soekarno Hatta. Alhamdulillah proses check-in, boarding, sampe take off pukul 08.30 WIB berjalan lancar. Sekitar pukul 11.30 (Waktu Kuala Lumpur) pesawat kami mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Di KLIA saya sempet makan siang sama solat dzhur (jama’ ashar). Jam 01.40 siang (Waktu Kuala Lumpur) saya berangkat menuju Haneda, Tokyo. Perjalanan kurang lebih 8 jam. Terakhir saya menempuh perjalan udara selama ini pas umroh. Pegel (yaiyalah).

Menu Makan Siang di KLIA
Menu Makan Siang di KLIA

Setelah 8 jam mati gaya selama di pesawat, akhirnya saya mendarat di Haneda Airport, Tokyo. Tapiii…karena buru-buru, ga sempet foto T_T. Alhamdulillah proses imigrasi berjalan lancar. Oiya pas proses imigrasi saya sempet diambil sidik jari dan foto sambil menyerahkan form imigrasi yang sudah saya isi waktu di pesawat. Haneda Airport itu mirip-mirip sama Changi Airport, luas banget, bersih, fasilitas lengkap, petunjuk arah dan informasinya juga jelas. Buktinya saya ga pake nyasar ketika menuju ke Haneda Airport International Passenger Terminal. Nyasar sih ga, tapi pas mo beli tiket train nya itu loh, pusing bin keder deh. Semua mesin tiket dan petanya dalam bahasa jepang :)). Beberapa saat utak atik mesin tiketny akhirnya ketemu tombol “ENGLISH”, tadaaa..abis dipencet tombolnya langsung semua instruksi mesin berubah jadi bahasa inggris #norak #biarin. Setelah si mesin tiket pake bahasa inggris terus bisa gitu beli tiket train nya? Ya ga lah, hahahaha. Jadi untuk beli tiketnya, saya harus pilih harga tiket atau stasiun yang dituju. Harga tiket saya ga tau, stasiun yang dituju sih tau, tapi pas input nama stasiun yang dituju terus search, hasilnya not found. Salah ejaannya kali ya #alibi. Ya udah ah, nyerah (kibarin bendera putih). Akhirnya minta tolong ke petugas buat beliin tiket trainnya sambil ngasih tau ke petugasnya nama stasiun yang saya tuju. Pas liat si petugasnya beraksi di depan mesin tiket, saya cuma bisa melongo, jadi cuma gitu doang? Itu sih saya bisa #belagu

Tiket trainnya udah ada. Tinggal masukin tiketny ke mesin yang ada diujung gate terus gatenya kebuka dan tiket yang tadi dimasukin keluar lagi di ujung gate satunya lagi. Tiket harus disimpen karena setibanya di stasiun yang dituju, tiket itu harus dimasukin lagi ke mesin yang ada diujung gate untuk ngebuka gatenya. Setelah ngelewatin gate, hawa dinginnya langsung berasa banget. Langsung pake jaket, pake sarung tangan. Ya ampuun dingin banget, rasanya tuh krenyet-krenyet (bahasa apa lagi nih) kaya lagi megang es batu lama banget. Belum lagi saya ga tau gimana caranya saya bisa nentuin kereta yang bakalan lewat nanti itu kereta yang bakalan saya naikin. Secara line nya banyak banget.  Saya harus naik train Asakusa Line dan turun di Kuramae Station. Akhirnya beberapa kali nanya ke orang-orang (Mba Lucy sih yang nanya-nanya hahahaha) yang ada disitu, terus ga lama train Asakusa Linenya dateng deh. Ternyata pas diperhatiin, di setiap trainnya ada kaya monitor gitu terus isinya running text yang bertuliskan nama line si train. Setelah masuk ke train langsung anget, ternyata di dalam train nya ada pemanasnya. Alhamdulillah, ga jadi beku deh.

Baru sebentar duduk anteng di dalam train, saya sama Mba Lucy heboh lagi. Kenapa? Soalnya saya sama Mba Lucy sama-sama ga tau kapan kita sampe di Kuramae Station dan kapan harus turun dari train hahahaha. Sebenernya di dalam trainnya ada voice information yang ngumumin nama stasiun, tapi bahasa jepang sodarah-sodarah :)). Akhirnya Mba Lucy liat peta dan ngitungin berapa stasiun yang kita lewatin dari Haneda Airport ke Kuramae Station. Jadi setiap trainnya berhenti, Mba Lucy sibuk ngitung dan ngingetin udah berapa stasiun hahahaha. Makasih ya, Mba udah diitungin, Jadi ga jadi salah turun stasiun deh 😀

Akhirnya sampe di Kuramae Station, terus tinggal ikutin arahan yang udah dikasih tau deh.

Jpeg

Coba deh itu smsnya dibaca, simple kan yah arahannya. Tapi kenapa saya sama Mba Lucy tetep nyasar ya? Pokoknya udah ngikutin isi sms itu, keluar A4, terus ke kanan, terus..terus..terus..katanya bakalan ketemu jembatan, tapi ini kok udah jalan lumayan jauh si jembatan ga keliatan juga. Hadeuuuh..dua wisatawan asing, cewe, tengah malem, berkeliaran di suhu sekitar 5 derajat celcius. Mo nangis T_T. Untung ga sendirian. Untung ada Mba Lucy. Huaaa.. u’r my angel deh (lebay). Mondar mandir, nyebrang sana sini. Masih ga ketemu juga itu jembatan. Sampe akhirnya ada sepasang suami istri (ga tau deng suami istri apa bukan, yang pasti cewe sama cowo) yang lewat, terus kita tanya aja ke mereka dimana MyStays Hotel, Asakusa. Mereka bingung, ternyata mereka ga bisa bahasa inggris T_T. Akhirnya saya tunjukin kertas yang ada alamat Hotelnya. Baru deh mereka ngeh. Si cewe langsung ngeluarin HP, gps on, buka maps. Terus dia nunjukin posisi kita sekarang dan lokasi Hotelnya. Ternyata saya sama Mba Lucy udah nyasar cukup jauh. Terus dengan segala daya, upaya si cewe ngasih tau arah ke Hotel dengan bahasa isyarat. Nangkep sih maksud dia. Sambil ngangguk-ngangguk saya sama Mba Lucy bilang arigataou. Eh baru jalan sebentar berasa ada yang manggil-manggil pas nengok ke sebrang jalan eh ada si sepasang suami istri tadi (padahal masih ga yakin mereka itu suami istri apa bukan :D) beneran lagi manggilin saya sama Mba Lucy. Pas kita samperin ternyata mereka mo nganterin kita ke Hotel. Ya ampun, Alhamdulillah ya Alloh. Makasih udah dibantuin lewat mereka. Padahal saat itu lagi gerimis dan dengan suhu sedingin itu mereka masih mau bantuin dan nganterin kita ke Hotel.

Makasih banyak ya, Ojisan, Obasan atas bantuannya. Semoga Allah balas dengan rezeki dan kebahagiaan yang melimpah. Baru hari pertama sampe di Jepang saya udah ngebuktiin kalau  orang Jepang itu baik (banget) dan ramah-ramah. Dan selama saya di Jepang ga ada satupun orang Jepang yang acuh tak acuh sama wisatawan. Semua orang Jepang yang saya mintain tolong selalu nolongin dengan sabar dan walaupun mereka ga bisa Bahasa Inggris, mereka tetep nolongin saya entah itu dengan bahasa isyarat, dengan gambar, atau dengan manggilin temen mereka yang bisa Bahasa Inggris.

Susah ga sih bikin Visa Jepang?

Alhamdulillah *sujudsyukur. Puji syukur kepada Allah SWT karena akhirnya saya bisa ke Jepang. Yeay!! Sebelum saya cerita tentang perjalanan saya selama di Jepang, saya mau berbagi pengalaman saya mengenai cara buat visa. Memang terhitung sejak 1 Desember 2014, Jepang telah melegalkan bebas VISA bagi WNI pemegang e-paspor, dengan melakukan registrasi pra keberangkatan. Namun karena paspor saya belum yang elektronik, jadi saya tetap harus mengurus visa untuk keberangkatan saya ke Jepang. Informasi lengkap tentang pembuatan visa jepang bisa dilihat di http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html.

Jenis visa itu sebenarnya ada banyak, tergantung dari tujuannya. Visa yang saya urus kemarin adalah Visa Kunjungan Sementara untuk Kunjungan Wisata dengan Biaya Sendiri. Untuk syarat dan dokumen yang diperlukan untuk mengajukan permohonan Visa tersebut bisa dilihat di http://www.id.emb-japan.go.jp/visa_7.html

  1. Paspor. Serahkan Paspor Asli ya, bukan fotocopy-an.
  2. Formulir Permohonan Visa dan Pasfoto terbaru. Untuk formulirnya bisa didowload disini kemudian dicetak lalu diisi dengan tulis tangan. Untuk pasfoto harus berukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar (background putih), bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram.
  3. Fotokopi KTP.
  4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa). Kalau ini saya tidak sertakan karena udah bukan mahasiswa 😛
  5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang). Nah, kalau saya kemarin cuma menyerahkan bukti booking aj, soalnya ngeri juga udah beli tiket PP tapi visa ga keluar. Jadi cukup pakai bukti booking tiket aja y.
  6. Jadwal Perjalanan. Kalau bisa semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang harus tercantum dalam jadwal perjalanan. Misalnya tanggal 2 Jan 2015 akan mengunjungi tempat apa saja dan akan menginap dimana.
  7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu). Karena saya pergi sendirian, jadi dokumen ini ga perlu.
  8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan. Saya menyerahkan rekening koran tabungan saya selama 3 bulan terakhir.

Semua dokumen yang sudah siap HARUS diurutkan sesuai nomor yang di atas tadi.

Hari Selasa, 2 Desember 2014 saya datang ke Kedutaan Jepang sekitar jam 9. Sampai sana langsung menyerahkan KTP asli. Terus masuk ke ruangan untuk pengajuan visa. Kalau udah masuk, ambil nomor antrian. Oiya, seingat saya mesin untuk ambil nomor antrian itu ada 2 buah, satu untuk WNI yang ingin mengajukan visa jepang, yang lainnya untuk WN Jepang dan keluarganya yang tinggal atau memiliki urusan di Indonesia. Jadi, jangan salah ambil nomor antrian ya.

wpid-p_20141202_110434.jpg
Nomor antrian untuk apply visa

 

Disana terdapat beberapa loket, yang paling ujung itu untuk travel agent yang mengajukan banyak visa. Dua loket untuk pihak pribadi yang mengurus visa sendiri. Dan satu loket lagi loket khusus untuk WN Jepang. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, nomor antrian saya dipanggil. saya langsung menuju loket yang telah ditentukan, menyerahkan kertas nomor antrian dan berkas-berkas yang sudah disiapkan. Cuma 5 menit (kayanya) si petugas ngasih form kecil untuk saya isi. Setelah itu saya diberikan form untuk mengambil visa pada Hari Jumat, 5 Desember 2014. Udah deh selesai. Banyak-banyak berdoa biar visa nya disetujuin :D.

wpid-p_20141202_110406.jpg
Form untuk pengambilan visa

 

Nungguin hari Jumat itu rasanya deg-degan. Gimana ga, hasil browsing kemarin itu, kata nya nanti kita akan dihubungi oleh Pihak Kedutaan Jepang via telepon. Ada yang diwawancara via telepon. Ada yang ditelepon untuk diminta datang ke Kedutaan. Ada juga yang diminta untuk menyerahkan data atau berkas pendukung lainnya. Karena itu, saya selalu stand by deket HP, siapa tau tiba-tiba ada telepon dari Kedutaan. Eh sampe hari Jumat, ga ada tuh telepon yang ditunggu-tunggu. Ya ampun, apa ini tandanya visa ga disetujuin yah? #mulaigalau. Akhirnya jumat siang saya datang ke Kedutaan Jepang lagi untuk mengambil visa (kalau disetujuin). Prosedurnya hampir sama dengan pengajuan visa kemarin. Tiba disana langsung nyerahin KTP, masuk ke ruangan yang sama, terus ambil nomor antrian. Kali ini antriannya ga terlalu banyak seperti waktu saya mengajukan visa kemarin. Ga lama nunggu, akhirnya nomor antrian saya dipanggil. Si petugas langsung nyodorin paspor saya dengan posisi terbuka pas halaman dimana visa ditempel. Alhamdulillah, akhirnya visa saya disetujuin. Yang tadinya deg-degan, langsung seneng, girang, hahahha…gitu deh pokoknya. Oiya biaya untuk pengajuan visa sebesar Rp.320.000,-. Harus cash ya.

wpid-2015-02-11-18-45-47_deco.jpg
Visa saya yang telah disetujiu 🙂

 

Jadi, susah ga sih bikin Visa Jepang?