Magical Khao Yai

Setelaaaaah… tujuh bulan lamanya, akhirnya bisa cuap-cuap lagi disini. So, what’s my excuse now? Hahahaha…sibuk, mak! Ternyata keputusan untuk lanjut S2 di kota yang berbeda bikin saya kewalahan. Sempet molor dari target lulus juga sih, tapi Alhamdulillah sekarang sudah selesai. Yeay! Eh tapi, belum officially sih, soalnya wisudanya belum. Baiklah, nyook lanjut…

Primo Piazza

Dari Palio Village, saya dan teman-teman lanjut ke Primo Piazza. Apa lagi sih ini? Primo Piazza ini “desa” bergaya Eropa, mirip sama Palio Village. Disini ada beberapa cafe dan restaurant. Tempat ini katanya sih salah satu landmark Khao Yai yang wajib dikunjungi. So, here we go

Jpeg
Primo Piazza, Khao Yai, Thailand
DSC00069
Pintu masuk Primo Piazza
DSC00076
Primo Piazza
DSC00077
Primo Piazza

Ada barn juga, jadi pengunjung bisa ngasih makan hewan-hewan yang ada di barn kaya Alpaca dan Donkey.

DSC00078
Primo Piazza
Jpeg
Barn in Priomo Piazza
DSC00087
Barn in Primo Piazza
IMG-20160812-WA0024
Alpaca *yang pake topi bukan yah
IMG-20160812-WA0023
Sok berani >,<
Jpeg
Jajan gelato

Ga jauh dari Primo Piazza ada restaurant, Birder Lodge namanya. Nah, di area parkirnya, ada bangunan unik kayanya berfungsi sebagai gudang deh *sotoy. Ini dia penampakannya:

Jpeg
Birder Lodge
mtf_QzKSL_237.jpg
Ga bisa banget liat tempat bagus, langsung foto deh
IMG-20160812-WA0007
Full Team

PB Valley Khao Yai Winery 

Setelah makan siang, kami menuju PB Valley Khao Yai Winery. Dari namanya udah bisa ditebak kan, itu tempat apa? Yeeeep…betul sekali. Winery itu bisa dibilang pabrik pembuatan wine. Jadi, di tempat ini ada vineyard (perkebunan anggur) yang luasnya kalau ga salah sekitar … *lupa :)). Pokoknya luas banget. Karena itu PB Valley Khao Yai Winery ini disebut sebagai “The biggest winery in Asia”. Disini pengunjung bisa ikut Vineyard dan Winery Tour yang diadakan lima kali dalam sehari, yaitu pukul 09.00 am, 10.30 am, 12.00, 01.30 pm dan 03.30 pm. Biaya untuk mengikuti tour ini adalah 300 baht per orang sudah termasuk kendaraan untuk berkeliling vineyard, tour guide, dan segelas wine atau grape juice. Kami sampai di PB Valley sekitar pukul 02.30 pm sedangkan tour yang akan diikuti baru akan mulai sejam kemudian, jadi kami bisa jalan-jalan sambal menunggu tour dimulai.

DSC00092
Area resto di PB Valley Khao Yai Winery
DSC00093
PB Valley Khao Yai Winery
DSC00096
PB Valley Khao Yai Winery
DSC00099
PB Valley Khao Yai Winery

Berikut ini foto-foto yang kami ambil ketika mengikuti Vineyard dan Winery Tour di PB Valley Khao Yai Winery.

DSC00113
Ini kendaraan yang digunakan saat mengikuti Vineyard dan Winery Tour
IMG-20160811-WA0034
Berasa naik angkot :))
DSC00103
Vineyard

DSC00155DSC00158DSC00161

DSC00108
Nah, anggurnya udah mulai merah nih (kalau masih muda warnanya hijau)
DSC00110
Cemon ngapain? hahahaha

Setelah mengelilingi vineyard yang luasnya banget banget, kami diajak melihat winery alias pabrik yang mengolah anggur-anggur tadi hingga menjadi wine.

DSC00131
Kira-kira beginilah proses pembuatan wine
DSC00119
Salah satu peralatan yang digunakan saat membuat wine
DSC00120
Di dalam winery
DSC00122
Tempat penyimpanan sari/jus anggur sebelum menjadi wine
DSC00129
Wine nya banyak banget >,<
DSC00135
Produk akhir alias wine
DSC00138
Wine
DSC00139
Red Wine
DSC00136
Ini bisa dinikmati oleh pengunjung yang telah mengikuti Vineyard & Winery Tour. Ada 2 pilihan: red wine atau grape juice

Selesai mengikuti Vineyard & Winery Tour ternyata udah sore, jadi kami langsung balik ke penginapan. Eh tapi sebelumnya sempet mampir ke Pak Chong Night Bazar untuk beli makan malam. Terus, besok ngapain? kemana aja? 😀 😀

 

Advertisements

Little Italy in Khao Yai

dsc00007
Palio Village

“Eh, ini kok ga berasa kaya di Thailand sih? Tuuh..tuuh liat tuh bangunannya kaya bangunan-bangunan di Eropa yah?” (kaya pernah ke Eropa aja -,-)

Gara-gara salah satu teman saya yang pengen banget balik ke Bangkok buat belanja #wongsugih, jadilah saya bersama 4 teman saya yang lain memutuskan untuk berangkat ke Thailand. Tapi kok ya masa ke Thailand cuman buat belanja di Bangkok aja, kaya nya kurang seru deh. Setelah browsing sana sini, nemu lah yang namanya Khao Yai. “Kok Khao Yai sih? itu daerah sebelah mana nya Thailand? Ada apaan emang disana?” Memang Khao Yai belum setenar Phuket, Chiang Mai atau Pattaya, tapi menurut saya Khao Yai bisa menjadi alternatif destinasi wisata di Thailand. Ada beberapa nilai plus untuk Khao Yai, lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Bangkok yaitu +/- 3 jam perjalanan menggunakan bis/minivan, biaya penginapan dan makan yang terjangkau, dan suasananya yang ga thailand banget.

bangkok-to-khao-yai-740x737
Map: Bangkok –> Khao Yai

How to get there?

Ada 2 pilihan transportasi yang dapat digunakan dari Bangkok ke Khao Yai, yaitu:

  1. Minivan. Jika mendarat di Don Mueang Int Airport, keluar terminal langsung bisa menaiki Bis A1 dan turun di Mochit. Dari Mochit gunakan BTS dan turun di Victory Monument Station. Lalu keluar dari station, menuju pasar yang bersebrangan dengan patung atau monumen. Nanti disitu banyak stand yang menjual tiket minivan ke berbagai tujuan, cari yang ke “Pak Chong”. Pak Chong merupakan kota terdekat dari Khao Yai. Minivan ini mirip dengan mobil travel Jkt-Bdg, cuman ga ada bagasinya :(. Jadi buat kalian yang membawa banyak tas apalagi koper yang gede, siap-siap duduk sempit-sempitan dengan si koper yah.
  2. Bis. Nah kalau mau naik Bis, naiknya dari Mochit 2 Bus Terminal. Mirip seperti kalau ingin menggunakan minivan, dari Don Mueang Int Airport naik Bis A1 dan turun di Mochit. Lalu naik bis yang ke Mochit 2 Bus Terminal. Kenapa naik bis lagi? Karena jarak dari Mochit Station ke Mochit 2 Bus Terminal itu jauuuuuuh pemirsaaah. Ohiyah, sama dengan Minivan, cari bis dengan tujuan Pak Chong.

Nah, terus saya naik yang mana? Semuanya saya cobain :D. Jadi, saya menggunakan Minivan ketika berangkat ke Pak Chong, dan menggunakan Bis saat kembali ke Bangkok.


Hari pertama tiba di Bangkok, saya langsung menuju ke Pak Chong. Dari Bangkok berangkat pukul 18.00 menggunakan Minivan dan tiba di Pak Chong pukul 20.30 dengan transit 1 kali di rest area. Setibanya di Pak Chong, saya bersama teman-teman saya dijemput oleh pihak hotel. Jarak dari pool minivan (dekat Pak Chong Night Bazaar) ke Blue Sky Villa Khao Yai Resort sekitar 20 menit. Sambil nunggu dijemput, kami sempat beli makan malam di Pak Chong Night Bazaar. Untuk review hotel, akan saya share di post selanjutnya ya.

Keesokan harinya, kami menyewa mobil dari hotel untuk jalan-jalan di Khao Yai. Tarif sewanya dari jam 10.00 – 20.00 yaitu 2200 Baht sudah termasuk supir dan bensin. Beberapa tempat yang berhasil kami kunjungi, yaitu Palio Village, Primo Piazza, Birder Lodge dan PB Valley.


Palio Village

Nama nya sih village, tapi ini bukan desa kok. Palio Village itu sebenarnya pusat perbelanjaan, tapi desain bangunan toko dan cafe bertemakan desa-desa di Eropa. Disini saya hanya numpang foto, ga belanja, ga makan, eh tapi sempet beli minuman Mulberry dan Lemon grass yang merupakan produk dari Jim Thompson Farm. Untuk masuk ke Palio Village gratis loh. Dan ternyata di dalam area Palio Village ini terdapat penginapan untuk umum yaitu Palio Inn.

dsc00004

dsc00019dsc00031dsc00034dsc00048dsc00056dsc00062dsc00043dsc00023dsc00016

Jpeg

 

Lanjut di post selanjutnya yaaa

Day 8: Osaka – Jakarta

Last day nih. Udah waktunya untuk pulang. Mau ga mau sih harus pulang, soalnya uang juga udah tiris hahaha. Waktu datang ke Jepang saya mendarat di Haneda International Airport, Tokyo. Nah karena sekarang saya di Osaka, jadi pulangnya lewat Kansai International Airport, Osaka.

Rute yang saya tempuh untuk kembali ke Indonesia adalah:

Osaka (Japan) 13.20 – Manila (Philipines) 16.40

Manila (Philipines) 20.50 – Singapore 00.30

Singapore 07.45 – Jakarta (Indonesia) 08.35

Banyak transitnya yah :D. Nama nya juga ngirit, harus mau berkorban waktu dengan transit sana sini termasuk nginep di airport. Saya masih beruntung nginepnya di Changi International Airport, Singapore. Kenapa? Karena fasilitas Changi International Airport itu sangat lengkap pemirsaaah.. karena udah beberapa kali ke airport ini, jadi sedikit banyak udah tau fasilitas disana. Termasuk Snooze Lounge yang merupakan ruang tunggu yang difasilitasi kursi yang bisa diubah jadi tempat tidur. Letaknya ada di Terminal 1 Transit Area Level 3, deket CFC.

Dari hotel tempat saya menginap, saya tinggal jalan kaki 5 menit ke Shin-Imamiya Station, lalu naik Nankai Airport Express menuju Kansai International Airport. Sebenernya ada dua jenis train menuju Kansai International Airport, yaitu Nankai Airport Express (yang saya gunakan) dan Nankai Ltd. Exp. Rapid. Bedanya apa? Nankai Airport Express itu dalemnya mirip commuter line di jakarta, tempat duduknya menyamping dan berhadapan dengan tempat duduk sisi lainnya, ada tempat untuk naro koper dan barang bawaan penumpang, jadi terutama koper yang ada rodanya tidak akan tergelincir ketika kereta berjalan, harga tiketnya 920 Yen dan memerlukan waktu 42 menit dari Shin-Imamiya Station ke Kansai International Airport. Sedangkan harga tiket Nankai Ltd. Exp. Rapid 1.430 Yen dan lebih cepat sampai di Kansai karena hanya memakan waktu 34 menit saja. Selain itu kalau naik yang rapid, tempat duduknya kaya di pesawat dan bisa reserved seat dengan membayar extra sebesar 5 Yen.

Jpeg
Nankai Ltd. Exp. Rapid

Sampai di Kansai kecepetan dan kelaperan karena belum sarapan. Sempet nyari dulu tempat makanan halal di Kansai. Eh ketemu! Namanya… Namanya…. Eeehhmmm. Ga tau! Hahahaha.. Jadi yah, tempat makan nya ituh namanya ditulis pake huruf kanji,pemirsaah. Jadi maap deh yak 😀

Jpeg
Resto Halal di Kansai Int Airport
Jpeg
Menu Makanan
Jpeg
Yuk, sarapan

Kelar makan tiba-tiba inget kalau saya belum beli oleh-oleh T_T. Ini parah banget yah. Keasikan jalan-jalan sampe ga inget buat beli oleh-oleh. Jadi lah belanja dulu sebelum check-in. Duuh, kenapa sih, semua yang dijual bentuknya unik dan lucu. Bikin uang yang udah tiris makin tiris. Si CC pun akhirnya kena gesek. Gpp deh yah, kan kapan lagi saya bisa kesini lagi #menghiburdiri. Tapi ya semoga someday bisa balik lagi kesini. Aamiin.

Proses check-in di Kansai International Airport alhamdulillah lancar. Cuman yah biasa deh, karena saya pake sepatu boot jadi pas lewatin x-ray gate kudu lepas dulu. Eh tapi penumpang yang lain juga gitu kok. Bahkan ada yang sampe mesti lepas jaket dan ikat pinggang.

Jpeg
Ruang Tunggu di Kansai Int Airport

Yang saya suka dari Kansai International Airport, tempat ini ramah banget dengan muslim. Terbukti dari ada brosur mengenai Muslim Guide dan ada musola yang bersih banget.

Jpeg
Brosur untuk Muslim Visitor
Jpeg
Brosur untuk Muslim Visitor
Jpeg
Tempat Solat di Kansai Int Airport
Jpeg
Tempat Wudhu
Jpeg
Tempat Solat
Jpeg
Tempat Solat

Pesawat yang saya tumpangi take off dan tiba di Manila tepat waktu. Nah yang saya heran, pas tiba di manila saya harus melalui proses check-out dan check-in kembali. Jadi karena itu, paspor saya kedapetan stempel Ninoy Aquino International Airport, Manila. Pas saya tanya ke petugas disana, katanya karena tiket osaka – manila dengan manila – singapore beda reff codenya. Jadi ya ga bisa langsung ke transit area, harus check-out dan check-in kembali. Mana pas mau check-in lagi antriannya panjang bener T_T. Untung aja penerbangan saya selanjutnya masih 2 jam lagi.

Dari Manila lanjut lagi ke Singapore. Landing di Changi Int Airport udah midnight, langsung menuju ke Snooze Lounge. Ternyata disana udah rame dan snooze lounge nya udah penuh. Dari yang di tidur di sofabed, kursi ruang tunggu sampai dengan tidur di lantai. Yah, selama tidak mengganggu orang lain, sah-sah aja kan :D. Saya sendiri prefer tidur di kursi biasa yang ga jauh dari Snooze Lounge. Pas subuh, seperti biasa para petugas keamanan Changi Int Airport bakalan sidak ke pengunjung yang nginap disini, termasuk di Snooze Lounge. Jadi, sebenernya tidak semua orang bisa nginap di Changi Int Airport. Semenjak banyak para backpacker yang sengaja menginap di Changi Int Airport untuk menghemat biaya penginapan, maka petugas keamanan jadi lebih ketat penjagaannya. Hanya orang-orang yang sedang transit dan memiliki boarding pass yang dibolehkan menginap dan menggunakan fasilitas di Snooze Lounge. Petugas keamanannya ga kaya security di Indonesia, tapi lebih mirip tentara yang siap perang, karena mereka kemana mana bawa senjata laras panjang. Ga perlu takut kok klo kita memang sedang transit dan memiliki boarding pass. Ketika sidak, saya menunjukan 2 boarding pass saya. Yang pertama boarding pass Manila (Philipines) 20.50 – Singapore 00.30 dan yang kedua Singapore 07.45 – Jakarta (Indonesia) 08.35. Nah karena waktu kedatangan saya di Singapore tepat tengah malam dan waktu keberangkatan saya ke Jakarta baru keesokan paginya, maka saya termasuk yang boleh menginap di Changi Int Airport :D.

img_2894-copyx

singapore-changi-airport-t2-snooze-lounge-pc

changi-5935

Jpeg
Changi Int Airport
Jpeg
Changi Int Airport

Solat subuh udah, sarapan pun udah, lanjut siap2 check-in buat penerbangan saya ke Jakarta. Alhamdulillah semua perjalanan lancar dan selamat sampai rumah. Perjalanan kali ini memberikan pengalaman yang luar biasa buat saya. Ini pertama kalinya saya ngerasain solo travelling. Kapok? Ga dong. Yang ada malah mau lagi hahahha. Semoga nanti masih dikasih rezeki umur, rezeki waktu, dan rezeki lainnya untuk menjelajah bumi Alloh yang luas ini. Aamiin 🙂

 

Day 7: Osaka

Setelah puas berkeliling di Shirakawa-Go, saya pun kembali ke penginapan di Takayama dengan menggunakan bis yang sama. Walaupun jalan pulang yang saya lewati sama dengan jalan pergi tadi, I was still amazed by the scenery. Banyak sekali tunnel yang saya lewati dan perbukitan yang memutih karena salju.

Sampai di penginapan, saya mengambil tas dan koper saya yang sebelumnya saya titipkan tadi pagi ketika saya akan berangkat ke Shirakawa-Go. Masih inget Bonnie? 😀 Petugas J-Hoppers Hida Takayama yang super baik itu hahaha. Kenapa saya bilang dia super baik? Karena sebenarnya semua petugasnya ramah-ramah. Bahkan saya masih boleh nunggu di waiting room dan make kitchen mereka padahal saya udah check-out dan lagi nunggu Bis untuk berangkat ke Osaka. Tapi yang bikin Bonnie jadi super baik (*bagi saya loh yah) saya ditawarin buat nebeng mobil dia buat ke meeting point bis ke Osaka. Seneng dong yah, jadi ga usah gerek2 koper diatas salju lagi hahaha. Karena saya berangkat dari Takayama sudah sore, jadi sampai di Osaka sudah malam sekitar jam 8 malam. Perjalanan dari Takayama ke Osaka memakan waktu sekitar 5 jam. Sampai di Osaka, saya langsung naik subway menuju Hotel Raizan North. Sempet nyasar juga pas nyari Hotel, nyerah, terus nanya orang deh. Eh ga taunya orang yang saya tanyain itu orang Indonesia. Dari hari pertama selama saya travelling di Jepang, ini pertama kalinya saya ketemu dengan orang Indonesia. Ternyata yah, itu Hotel deket banget dari pintu keluar Subway >,<. Ok. Positif lah kalau gini, saya bukan termasuk orang yang bisa baca peta dengan baik dan bener hahaha. Yuuk istirahat, siapin tenaga untuk explore Osaka esok hari.

Jpeg
Pagi, Osaka 🙂
Jpeg
Osaka
IMG_1639
Osaka
IMG_1640
Osaka
IMG_1641
Osaka

Kalau pernah nonton serial anime “Detective Conan”, pasti pernah denger Heiji Hattori, Detective SMA yang berasal dari Osaka yang juga saingannya Shinichi Kudo. Salah satu scene nya pernah berlatar belakang Osaka Castle. Nah kali ini saya akan mengunjungi Osaka Castle

IMG_1643

IMG_1642 IMG_1646

IMG_1663
Osaka Castle
IMG_1666
Osaka Castle
IMG_1668
Osaka Castle
IMG_1670
Hideyoshi Toyotomi, Founder of Osaka Castle

IMG_1660 IMG_1664 IMG_1665

Osaka Castle ini terdiri dari beberapa lantai dan berfungsi sebagai exhibition dan museum yang bercerita tentang Summer War of Osaka dan ada juga Diorama Kisah Hidup Hideyoshi Toyotomi.

IMG_1672 IMG_1673

IMG_1680
The diorama from the life of Hideyoshi Toyotomi
IMG_1681
The diorama from the life of Hideyoshi Toyotomi
IMG_1682
The diorama from the life of Hideyoshi Toyotomi
IMG_1683
The diorama from the life of Hideyoshi Toyotomi

IMG_1684

Sayangnya tidak semua isi Osaka Castle boleh diabadikan oleh para pengunjung 😦

IMG_1692
Taman Jepang yang berada di area Osaka castle
IMG_1696
Taman Jepang berlatar belakang Osaka castle

Jpeg

IMG_1697
Osaka Castle

Jpeg

IMG_1698
Parit yang mengelilingi Area Osaka Castle
IMG_1699
Parit yang mengelilingi Area Osaka Castle

Dari Osaka Castle ini saya bisa berjalan kaki ke Osaka-jo Hall. Osaka-jo Hall ini sering digunakan untuk menyelenggarakan concerts, theatrical performances, sports events, exhibitions, ceremonies, bahkan trade shows dari Jepang maupun luar Jepang. Dari informasi yang saya dapat, Osaka-jo Hall ini bisa menampung hingga 16,000 penonton. Wow!!

IMG_1709
Osaka-jo Hall

IMG_1708

Dari Osaka-jo Hall saya tinggal berjalan kaki ke Train Station Osakajokoen, menaiki kereta dan turun di Namba Station. Dari Namba Station saya menuju ke Namba Parks. Disitu sih saya cuma numpang istirahat sambil makan bekal yang saya bawa 😀

Jpeg
Namba Parks
Jpeg
Namba Parks

Dari Namba Parks, saya berjalan kaki ke daerah Dotonbori. Ada apa disana? Ada landmark Dotonbori yang hits banget, yaitu Mr. Glico Man. Dotonbori sendiri boleh dibilang adalah pusat makanan Osaka dimana disekitar kanalnya banyak terdapat restoran dan pusat perbelanjaan dengan neon sign unik,

Jpeg
Glico Man
Jpeg
Glico Man

Jpeg

Ga jauh dari Dotonbori, ada pusat perbelanjaan yang udah ada dari jaman dulu yaitu Shinsaibashi Suji. Sejak jaman Edo, sekitar pertengahan abad ke 18, Shinsaibashi Suji ini sudah menjadi pusat perbelanjaan yang dipenuhi dengan toko-toko penjual kimono, barang antik, buku dan perabotan. Mungkin karena letaknya yang strategis diantara Shinmachi (dulunya adalah red light district) dan Dotonbori (theater district) hingga pusat perbelanjaan ini menjadi sangat terkenal dan ramai dikunjungi. Hingga kini, Shinsaibashi Suji masih berfungsi sebagai pusat perbelanjaan yang dipenuhi oleh ratusan toko dan butik, baik yang sudah ternama seperti Uniqlo dan H & M maupun yang belum ternama. Shopping Arcade sepanjang 600 meter ini terletak sejajar dengan jalan Mido Suji Dori dan didominasi oleh Daimaru Dept. Store yang menguasai hampir 2 blok. Selain yang terbesar Daimaru sekaligus merupakan toko tertua yang berusia kurang lebih 250 tahun. (sumber)

Jpeg
Shinsaibashi Suji
Jpeg
Shinsaibashi Suji
Jpeg
Shinsaibashi Suji
Jpeg
Minat beli Sega? Di Shinsaibashi Suji ada loh
Jpeg
Shinsaibashi Suji
Jpeg
Nama Toko yang unik di Shinsaibashi Suji

Mungkin karena udah seminggu didominasi sama yang namanya “jalan kaki”, rasanya gimana gitu mau muterin Shinsaibashi Suji yang panjang dan rame banget itu. Akhirnya di Shinsaibashi Suji saya cuma masuk ke beberapa toko aja. Setelah itu saya kembali ke Hotel, eh tapi sempet mampir dulu di Umeda Sky Building.

Sampai di Hotel, langsung nyobain fasilitas sauna ny. Huaaa..lumayan banget buat ngilangin cape n pegel2. Abis itu? Siap2 packing yuk, karena besok saya sudah harus kembali ke Indonesia :((

Day 6: Kanda House

IMG_1564
Welcome to Kanda House

Salah satu rumah bergaya Gassho yang bisa dikunjungi oleh wisatawan adalah Kanda House. Seperti rumah tradisional lainnya, Kanda House ini sudah berumur ratusan tahun dan telah beralih fungsi dari private house menjadi museum. Untuk masuk ke Kanda House dikenai biaya sebesar 300 Yen.

IMG_1619 IMG_1620

Sebelum masuk ke Kanda House, pengunjung diharuskan untuk membersihkan pakaiannya dari salju yang nempel, jadi biar nanti saljunya ga masuk ke rumah terus jadi becek deh. Bersihinnya pake apa? Pake sapu pemirsaaah. Yep, sama persis sama sapu ijuk yang ada dirumah saya :))IMG_1617 IMG_1566

IMG_1570
Tungku tradisional yang berfungsi untuk masak dan sekaligus menghangatkan ruangan

IMG_1616

IMG_1569
Free Hot Ocha. Yeaaayyy \(^o^)/
IMG_1575
Proses pembangunan Kanda House
IMG_1576
Proses pembangunan Kanda House
IMG_1572
Mr.Kanda’s generation
IMG_1580
Yuuk..ke lantai 2

IMG_1586

IMG_1592
Sayang ya penjelasannya ga ada yang pake Bahasa Inggris 😦

IMG_1590 IMG_1591 IMG_1593 IMG_1594 IMG_1595 IMG_1596 IMG_1597 IMG_1601 IMG_1602

IMG_1603
Lantai 3

IMG_1604 IMG_1605 IMG_1607 IMG_1608 IMG_1609 IMG_1610 IMG_1611

Pemandangan dari lantai 3
Pemandangan dari lantai 3

Nah, udah ga penasaran lagi kan sama penampakan isi rumah Mr. Kanda 😀

Day 6: Shirakawa-Go

Baru kali ini tidur dengan pakaian super duper lengkap hahahaha. Baju 3 lapis ditambah coat tebel, celana 2 lapis, kaos kaki dan sarung tangan. Udah segitu lengkapnya pun saya masih pake selimut+bed cover. Heater di kamar pun ga sanggup ngelawan hawa dingin. Freezing T_T. Pas ngecek ternyata suhunya -6 derajat C :((. Org ciledug sok2an maen ke tmp dingin ya begini nih jadinya wkwkwkwk.

Bangun pagi, mo sholat subuh rasanyaaaaaa…ga berani ambil wudhu >,< bisa ga sih tayamum aja? kebayang adegan film kartun yang si aktornya kena air trus beku hahahaha #dodol. Pagi ini semangat banget, bela2in bangun pagi, keluar dari selimut, trus mandi (eh tapi ada air angetnya kok) krn abis ini saya mau ke Shirakawa-Go.

Shirakawago adalah nama kumpulan rumah bergaya Gassho yang terletak di sekitar desa Shirakawa perfektur Gifu. Daerah ini termasuk kedalam list kekayaan budaya dunia (World Heritage) buatan Unesco bersama-sama dengan desa Gassho di Gokayama perfektur Toyama. Gassho zukuri adalah sebuah istilah untuk rumah-rumah tradisonal dengan atap jerami besar yang biasa terlihat di daerah yang banyak timbunan saljunya. Karena Shirakawa merupakan daerah utama hujan salju besar di dunia, dan tempat paling bersalju di Jepang, dengan area hutan sebesar 95,7% maka diperlukan atap khusus, bentuknya mirip dengan dua tangan yang dikatupkan untuk berdoa atau gassho, sehingga diberi nama seperti ini. Agar dapat menahan timbunan salju keseluruhan bangunan dilingkupi atap besar yang ditahan oleh tiangtiang besar dan hitam, palang, dsbg. Di Shirakawago (Ogicho)sendiri terdapat 113 buah rumah bergaya Gassho. Beberapa desa Gassho yang tersisa sampai saat ini menjadi suatu peninggalan sejarah bernilai tinggi. Kekhasan desa ini adalah, pemandangan alaminya yang bagus sehingga membuatnya terkenal hingga ke manca negara. (Sumber)

Jpeg
Half-day tour to Shirakawa-Go

Jam 8 saya sudah sampai di Meeting Point yang udah dikasih tau sama Bonnie (Petugas J-Hoppers Hida Takayama). Disitu ternyata bisnya udah standby loh, ga heran sih, ini kan di Jepang bukan di Cileduk hahaha. Tepat jam 08.10 bis berangkat deh, saat itu rombongan cuma terdiri dari 6 orang: 4 orang peserta, 1 orang travel guide (Ayumi), dan 1 lagi pak supir. Selama perjalanan Ayumi menjelaskan kepada peserta tour mengenai Shirakawa-Go. Menurut informasi, 5 tahun lalu menuju Shirakawa-go menghabiskan waktu lebih dari 6 jam dari Takayama, tapi pemerintah Jepang sudah membuatkan jalan tol dan juga terowongan menembus gunung perbukitan, sehingga sekarang waktu tempuh ke Shirakawa-go kurang dari 1 jam menggunakan bus. Ayumi juga ngasih tau spot mana saja yang wajib dikunjungi. Oiya Ayumi ternyata membawa Sarubobo yang merupakan boneka asli, maskot dari daerah Hida, termasuk Takayama. Dari cerita Ayumi, jaman dahulu para Ibu membuat boneka Sarubobo dari sisa kain Kimono. Pada abad 17 timbul wabah smallpox (cacar), mereka mulai membuat Sarubobo berwarna merah, agar anak-anak mereka sehat, karena warna merah dipercaya menjadi kekuatan melawan penyakit. Eh tapi kok ga Sarubobo ga punya wajah dan mata? Kata Ayumi, tanpa wajah dan mata dipercaya Sarubobo dapat lebih mencerminkan perasaan kita. Apabila kita sedang sedih, Sarubobo akan ikut sedih dan menghibur kita. Dan jika kita sedang gembira, Sarubobo juga ikut senang dan tersenyum.

Jpeg
Me with Sarubobo

Spot pertama yang saya kunjungi sesampainya di Shirakawa-Go adalah Shiroyama Viewpoint. Viewpoint ini terletak agak jauh dan lokasinya lebih tinggi, jadi kalo dari sini seluruh penampakan Desa Ogimachi bisa keliatan. Desa Ogimachi merupakan desa terbesar di Shirakawa-Go

Jpeg
Shiroyama Viewpoint
Jpeg
Shiroyama Viewpoint

Jika diperhatikan dari lokasi ini, rumah-rumah Gassho-zukuri di Ogimachi ini sengaja dibangun menghadap ke arah yang kurang lebih sama. Karena rumah-rumah ini dibangun dengan sedemikian rupa agar sisi kiri dan kanan atap Gassho-zukuri ini mengarah ke arah Timur dan Barat, yaitu tempat matahari terbit dan tenggelam, agar salju yang menumpuk di atas atap rumah-rumah tersebut bisa lebih lama terekspos sinar matahari dan cepat luruh ke tanah.

IMG_1506
Shiroyama Viewpoint

Untuk menuju desa, harus melewati Sungai Shokawa melalui Jembatan Deai. Jadi kebayang terpencil banget desanya jaman dulu sebelum ada jembatan ini.

IMG_1637
Check point sebelum menuju desa.
Jembatan Deai
Jembatan Deai

 

Jembatan Deai
Jembatan Deai
Jpeg
Jembatan Deai
IMG_1525
Sungai Shokawa
IMG_1527
Sungai Shokawa
IMG_1528
Sungai Shokawa

IMG_1531 IMG_1533 IMG_1537 IMG_1540 IMG_1542 IMG_1543 IMG_1544 IMG_1546 IMG_1549 IMG_1551

Tiga buntelan :))
Tiga buntelan :))
IMG_1561
Eskimo???? Hahaha.. ini salah satu peserta tour juga, tapi saya lupa namanya 😀
Mask: On. Ga kuat hidung saya menghirup udara yg super dingin bgt >,<
Mask: On. Ga kuat hidung saya menghirup udara yg super dingin bgt >,<

IMG_1536 IMG_1599 IMG_1600 IMG_1606 IMG_1612 IMG_1614 IMG_1615 IMG_1626 IMG_1628 IMG_1629 IMG_1632

IMG_1627Oiya, kita bisa masuk loh ke salah satu rumah tradisional di desa ini. Ada beberapa rumah yang terkenal, diantaranya: Wada House, Nagase House, dan Kanda House. Untuk masuk kerumah tradisional tersebut dikenakan tarif sebesar 300 Yen. Saya memutuskan untuk mengunjungi Kanda House. Kenapa? Karena berdasarkan informasi dari Ayumi, setiap pengunjung yang memasuki Kanda House dapet free hot ocha. Wuidiiiih…dengan udara sedingin ini siapa yang ga mau dikasih hot ocha? wkwkwkwk. Gimana sih penampakan bagian dalam rumah tradisional yang umurnya itu udah lebih dari 200 tahun? Ada apa aja didalamnya? Tuan dan Nyonyah Kanda itu kaya apa sih? wait yooo 😀

Selama 8 hari ngegembel di Jepang nginep dimana?

Kali ini saya mau share tentang penginapan saya selama di Jepang. So, cerita tentang Shirakawa-Go nya saya pending dulu ya :D. Karena selama di Jepang saya ga hanya stay di satu kota aja, jadi saya akan review beberapa penginapan di kota yang berbeda. Selama di Jepang saya ga selalu tinggal di Hotel, namanya juga turis kere :)) harus pinter2 ngakalin biaya akomodasi. Jadi saya nginep di Hotel 2x, di Guest House 1x dan di Hostel 1x. Emang bedanya apa sih antara Hotel sama Hostel? Pasti udah banyak yg tau yak. Tapi boleh ya ngasih pendapat. Ini menurut saya aja, kalau Hotel itu lebih ngedepanin kenyamanan dan kemewahan, trus service yang diberikan juga berbeda-beda tergantung stars ratingnya, dan setiap pengunjung pasti dapet private room. Kalau Hostel orientasinya sih menurut saya lebih ke petualangan, kebanyakan bentuknya dormitory (satu kamar yang bisa diisi oleh banyak orang), bathroom juga sharing, kadang ada juga yang menyediakan kitchen yang bisa dipake rame-rame, eh tapi ada juga kok Hostel yang juga menyediakan private room dan private bathroom. Kalau soal harga ga bisa dipastiin juga Hotel itu lebih mahal dari Hostel.

Tokyo: MyStays Hotel, Asakusa.

  • Alamat: 1-21-11, Honjo, Sumida-ku, Tokyo 130-0004, Japan
  • Rate: tripadvisor.com: 4.     agoda.com: 7,3.     booking.com: 7.8
  • Lokasinya strategis, tinggal jalan kaki ke Station terdekat 4 menit, ke Asakusa (Sensoji Temple, Kaminarimon Gate) 15-20 menit, ke Tokyo Sky tree 20-30 menit.
  • Harga: Karena sudah include kedalam paket Trip Japan CK jadi saya ga tau harganya, tapi saya liat di webnya harga kamar standar per malam sekitar 9.900 Yen
  • Reception Hours 8:00 a.m. – 10:00 p.m. Waktu itu saya tiba di Hotel sudah jam 12 malam, petugas hotel udah ga ada karena diluar Reception Hours, tapi ga usah khawatir karena untuk masuk ke Hotel saya sudah dikasih no pin yang nantinya tinggal diinput di deket pintu masuk deh.
  • Kamarnya kecil (khas hotel di Jepang). Saya menginap 2 malam di Standard Room dengan fasilitas private bathroom, TV, wifi 24 jam. Di lobby ada vending machine, sewa PC Desktop (kalau mau sewa laptop bisa tanya ke Receptionis). Agak jauh ke convinience store.
  • My rate: 7,6

Kyoto: Hostel Haruya Book

  • Alamat: 1-12 waki-cho Shimogyo-ku, KYOTO, JAPAN
  • Rate: tripadvisor.com: 4.     agoda.com: 8,2.     booking.com: 8,5.
  • Harga: 1.620 Yen atau Rp.175.000,- (book melalui booking.com; 1 night, 1 dorm bed )
  • Lokasinya cukup strategis. Dari Kyoto Station tinggal jalan kaki sekitar 15 menit. Ke halte bis tinggal koprol nyampe.
  • Petugas hostelnya baik banget. Pas sampe kan kepagian dan belum bisa check-in, tapi sama si Bapaknya malah ditawarin teh/kopi, trus koper saya langsung diangkatin dan disimpenin. Si Bapak pun mau loh ngejelasin tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungin.
  • Hostel ini sebenernya 100 years old typical Japanese traditional townhouse gitu. Jadi kalau mau ngerasain Jepang jadul bisa dicoba tinggal di Hostel ini. Sesuai namanya, didalam Hostel ini ada perpustakaan loh, seru deh (buat yang bisa bahasa Jepang) karena buka yang ditulis dalam english cuma sedikit.
  • Di sekitar Hostel juga ada beberapa tempat pemandian air panas (tapi saya ga sempet nyobain). Convinience store juga deket.
  • My rate: 8,5

Takayama: J-Hoppers Hida Takayama

  • Alamat: 5-52 Nadamachi, Takayama 506-0021, Gifu Prefecture
  • Rate: tripadvisor.com: 4,5.     agoda.com: 8,3.     booking.com: 8,6.
  • Harga: Dari webnya harga untuk satu malam di female dorm sekitar 2.500 Yen atau Rp.270.000,- (saya ikut paket tour dari J-Hop Tour dengan harga 13.000 Yen sudah termasuk: Round-trip bus from Kyoto/Osaka to Takayama, penginapan semalam di J-Hoppers Hida Takayama Guest House, dan half day bus tour ke Shirakawa-Go)
  • Lokasi strategis banget apalagi Takayama kota kecil jadi kemana mana rasanya deket.
  • Fasilitas kitchen nya lengkap (refrigerator, microwave, kompor) jadi bisa masak atau sekedar ngangetin makanan.
  • Petugasnya ramah-ramah. Bahkan saya masih boleh nunggu di waiting room dan make kitchen mereka padahal saya udah check-out dan lagi nunggu Bis untuk berangkat ke Osaka. Lagi dan lagi saya ditawarin buat nebeng mobil si petugas guest housenya buat ke meeting point bis ke Osaka. Seneng dong yah, jadi ga usah gerek2 koper diatas salju lagi :D.
  • Walaupun pesen yang female dorm tapi kamarnya luas, ga berasa kaya di dorm deh.
  • My rate: 8,7

Osaka: Hotel Raizan North

  • Alamat: Osaka, Nishinari Ward, Nishinari-ku Taishi 1-3-3
  • Rate: tripadvisor.com: 4.     agoda.com: 7,7.     booking.com: 8.
  • Harga: 5.400 Yen atau Rp.580.000,- (book melalui booking.com; Single Room with Shared Bathroom inc breakfast). Karena saya nginep disini pas weekend, jadi harganya lebih mahal dibanding weekdays. Harga saat weekdays sekitar 2.400 Yen.
  • Lokasinya deket banget sama Subway Station (2 menit jalan kaki)
  • Ada fasilitas sauna n spa (tapi saya ga nyobain sih :D). PC desktop juga ada. Semua free of charge.
  • Fasilitas kitchen nya lengkap (refrigerator, microwave, kompor) jadi bisa masak atau sekedar ngangetin makanan.
  • My rate: 7,6.

Duuh..maap yak, kali ini ga ada fotonya. Lupaaa! Udah gitu pas nympe penginapan kan udah keburu malem tuh, jadi langsung tepar deh (alibi). Ok klo gitu, semoga informasi ini bisa membantu ya ^^