Magical Khao Yai

Setelaaaaah… tujuh bulan lamanya, akhirnya bisa cuap-cuap lagi disini. So, what’s my excuse now? Hahahaha…sibuk, mak! Ternyata keputusan untuk lanjut S2 di kota yang berbeda bikin saya kewalahan. Sempet molor dari target lulus juga sih, tapi Alhamdulillah sekarang sudah selesai. Yeay! Eh tapi, belum officially sih, soalnya wisudanya belum. Baiklah, nyook lanjut…

Primo Piazza

Dari Palio Village, saya dan teman-teman lanjut ke Primo Piazza. Apa lagi sih ini? Primo Piazza ini “desa” bergaya Eropa, mirip sama Palio Village. Disini ada beberapa cafe dan restaurant. Tempat ini katanya sih salah satu landmark Khao Yai yang wajib dikunjungi. So, here we go

Jpeg
Primo Piazza, Khao Yai, Thailand
DSC00069
Pintu masuk Primo Piazza
DSC00076
Primo Piazza
DSC00077
Primo Piazza

Ada barn juga, jadi pengunjung bisa ngasih makan hewan-hewan yang ada di barn kaya Alpaca dan Donkey.

DSC00078
Primo Piazza
Jpeg
Barn in Priomo Piazza
DSC00087
Barn in Primo Piazza
IMG-20160812-WA0024
Alpaca *yang pake topi bukan yah
IMG-20160812-WA0023
Sok berani >,<
Jpeg
Jajan gelato

Ga jauh dari Primo Piazza ada restaurant, Birder Lodge namanya. Nah, di area parkirnya, ada bangunan unik kayanya berfungsi sebagai gudang deh *sotoy. Ini dia penampakannya:

Jpeg
Birder Lodge
mtf_QzKSL_237.jpg
Ga bisa banget liat tempat bagus, langsung foto deh
IMG-20160812-WA0007
Full Team

PB Valley Khao Yai Winery 

Setelah makan siang, kami menuju PB Valley Khao Yai Winery. Dari namanya udah bisa ditebak kan, itu tempat apa? Yeeeep…betul sekali. Winery itu bisa dibilang pabrik pembuatan wine. Jadi, di tempat ini ada vineyard (perkebunan anggur) yang luasnya kalau ga salah sekitar … *lupa :)). Pokoknya luas banget. Karena itu PB Valley Khao Yai Winery ini disebut sebagai “The biggest winery in Asia”. Disini pengunjung bisa ikut Vineyard dan Winery Tour yang diadakan lima kali dalam sehari, yaitu pukul 09.00 am, 10.30 am, 12.00, 01.30 pm dan 03.30 pm. Biaya untuk mengikuti tour ini adalah 300 baht per orang sudah termasuk kendaraan untuk berkeliling vineyard, tour guide, dan segelas wine atau grape juice. Kami sampai di PB Valley sekitar pukul 02.30 pm sedangkan tour yang akan diikuti baru akan mulai sejam kemudian, jadi kami bisa jalan-jalan sambal menunggu tour dimulai.

DSC00092
Area resto di PB Valley Khao Yai Winery
DSC00093
PB Valley Khao Yai Winery
DSC00096
PB Valley Khao Yai Winery
DSC00099
PB Valley Khao Yai Winery

Berikut ini foto-foto yang kami ambil ketika mengikuti Vineyard dan Winery Tour di PB Valley Khao Yai Winery.

DSC00113
Ini kendaraan yang digunakan saat mengikuti Vineyard dan Winery Tour
IMG-20160811-WA0034
Berasa naik angkot :))
DSC00103
Vineyard

DSC00155DSC00158DSC00161

DSC00108
Nah, anggurnya udah mulai merah nih (kalau masih muda warnanya hijau)
DSC00110
Cemon ngapain? hahahaha

Setelah mengelilingi vineyard yang luasnya banget banget, kami diajak melihat winery alias pabrik yang mengolah anggur-anggur tadi hingga menjadi wine.

DSC00131
Kira-kira beginilah proses pembuatan wine
DSC00119
Salah satu peralatan yang digunakan saat membuat wine
DSC00120
Di dalam winery
DSC00122
Tempat penyimpanan sari/jus anggur sebelum menjadi wine
DSC00129
Wine nya banyak banget >,<
DSC00135
Produk akhir alias wine
DSC00138
Wine
DSC00139
Red Wine
DSC00136
Ini bisa dinikmati oleh pengunjung yang telah mengikuti Vineyard & Winery Tour. Ada 2 pilihan: red wine atau grape juice

Selesai mengikuti Vineyard & Winery Tour ternyata udah sore, jadi kami langsung balik ke penginapan. Eh tapi sebelumnya sempet mampir ke Pak Chong Night Bazar untuk beli makan malam. Terus, besok ngapain? kemana aja? 😀 😀

 

Little Italy in Khao Yai

dsc00007
Palio Village

“Eh, ini kok ga berasa kaya di Thailand sih? Tuuh..tuuh liat tuh bangunannya kaya bangunan-bangunan di Eropa yah?” (kaya pernah ke Eropa aja -,-)

Gara-gara salah satu teman saya yang pengen banget balik ke Bangkok buat belanja #wongsugih, jadilah saya bersama 4 teman saya yang lain memutuskan untuk berangkat ke Thailand. Tapi kok ya masa ke Thailand cuman buat belanja di Bangkok aja, kaya nya kurang seru deh. Setelah browsing sana sini, nemu lah yang namanya Khao Yai. “Kok Khao Yai sih? itu daerah sebelah mana nya Thailand? Ada apaan emang disana?” Memang Khao Yai belum setenar Phuket, Chiang Mai atau Pattaya, tapi menurut saya Khao Yai bisa menjadi alternatif destinasi wisata di Thailand. Ada beberapa nilai plus untuk Khao Yai, lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Bangkok yaitu +/- 3 jam perjalanan menggunakan bis/minivan, biaya penginapan dan makan yang terjangkau, dan suasananya yang ga thailand banget.

bangkok-to-khao-yai-740x737
Map: Bangkok –> Khao Yai

How to get there?

Ada 2 pilihan transportasi yang dapat digunakan dari Bangkok ke Khao Yai, yaitu:

  1. Minivan. Jika mendarat di Don Mueang Int Airport, keluar terminal langsung bisa menaiki Bis A1 dan turun di Mochit. Dari Mochit gunakan BTS dan turun di Victory Monument Station. Lalu keluar dari station, menuju pasar yang bersebrangan dengan patung atau monumen. Nanti disitu banyak stand yang menjual tiket minivan ke berbagai tujuan, cari yang ke “Pak Chong”. Pak Chong merupakan kota terdekat dari Khao Yai. Minivan ini mirip dengan mobil travel Jkt-Bdg, cuman ga ada bagasinya :(. Jadi buat kalian yang membawa banyak tas apalagi koper yang gede, siap-siap duduk sempit-sempitan dengan si koper yah.
  2. Bis. Nah kalau mau naik Bis, naiknya dari Mochit 2 Bus Terminal. Mirip seperti kalau ingin menggunakan minivan, dari Don Mueang Int Airport naik Bis A1 dan turun di Mochit. Lalu naik bis yang ke Mochit 2 Bus Terminal. Kenapa naik bis lagi? Karena jarak dari Mochit Station ke Mochit 2 Bus Terminal itu jauuuuuuh pemirsaaah. Ohiyah, sama dengan Minivan, cari bis dengan tujuan Pak Chong.

Nah, terus saya naik yang mana? Semuanya saya cobain :D. Jadi, saya menggunakan Minivan ketika berangkat ke Pak Chong, dan menggunakan Bis saat kembali ke Bangkok.


Hari pertama tiba di Bangkok, saya langsung menuju ke Pak Chong. Dari Bangkok berangkat pukul 18.00 menggunakan Minivan dan tiba di Pak Chong pukul 20.30 dengan transit 1 kali di rest area. Setibanya di Pak Chong, saya bersama teman-teman saya dijemput oleh pihak hotel. Jarak dari pool minivan (dekat Pak Chong Night Bazaar) ke Blue Sky Villa Khao Yai Resort sekitar 20 menit. Sambil nunggu dijemput, kami sempat beli makan malam di Pak Chong Night Bazaar. Untuk review hotel, akan saya share di post selanjutnya ya.

Keesokan harinya, kami menyewa mobil dari hotel untuk jalan-jalan di Khao Yai. Tarif sewanya dari jam 10.00 – 20.00 yaitu 2200 Baht sudah termasuk supir dan bensin. Beberapa tempat yang berhasil kami kunjungi, yaitu Palio Village, Primo Piazza, Birder Lodge dan PB Valley.


Palio Village

Nama nya sih village, tapi ini bukan desa kok. Palio Village itu sebenarnya pusat perbelanjaan, tapi desain bangunan toko dan cafe bertemakan desa-desa di Eropa. Disini saya hanya numpang foto, ga belanja, ga makan, eh tapi sempet beli minuman Mulberry dan Lemon grass yang merupakan produk dari Jim Thompson Farm. Untuk masuk ke Palio Village gratis loh. Dan ternyata di dalam area Palio Village ini terdapat penginapan untuk umum yaitu Palio Inn.

dsc00004

dsc00019dsc00031dsc00034dsc00048dsc00056dsc00062dsc00043dsc00023dsc00016

Jpeg

 

Lanjut di post selanjutnya yaaa

Pesona Pulau Saronde

IMG_4128
Pulau Saronde

Kalau ada yang bertanya tentang wisata bahari di Sulawesi, mungkin banyak orang yang menjawab Bunaken, Lembeh, atau Wakatobi. Jarang sekali ada yang menjawab Gorontalo. Padahal keindahan laut Gorontalo tidak kalah dengan tempat lain. Setelah Taman Laut Olele, kali ini giliran Pulau Saronde yang berhasil membuat saya berucap sekali lagi “Aah..beruntungnya saya tinggal di Indonesia”. Pulau Saronde hanyalah satu dari tiga pulau yang tergabung dalam Kepulauan Saronde. Dua pulau lainnya adalah Pulau Bugisa dan Pulau Mohinggito.

Kepulauan-Saronde
Kepulauan Saronde (Sumber)

Saya dan Cemon memutuskan untuk menghabiskan hari keempat kami di Gorontalo dengan mengunjungi Pulau Saronde. Dari Grand City Hotel, kami menyewa Bentor menuju pangkalan angkot yang menuju Pelabuhan Kwandang. Perjalanan dari Kota Gorontalo ke Pelabuhan Kwandang dengan menggunakan angkot memakan waktu sekitar kurang lebih 2 jam dengan biaya Rp.25.000/org. Sesampainya di Pelabuhan Kwandang, kami menyewa perahu katinting tradisional dengan kisaran harga Rp.300.000 – 400.000,- PP. Perahu ini bisa memuat hingga 10 orang, tapi karena kami hanya berdua ongkos perahu jadi terasa mahal :D. Hanya butuh 40 menit dari Pelabuhan Kwandang, kami sampai di Pulau Saronde dan disambut dengan hamparan pasir putih yang sangat indah.

IMG_4091IMG_4189IMG_4146IMG_4142IMG_4165IMG_4197

Jika ada pengunjung yang ingin menginap, Pulau Saronde memiliki fasilitas penginapan yang unik. Ya, penginapan di atas air. Saat kami kesana, penginapan masih dalam proses pembangunan. Tapi sepertinya saat ini penginapan tersebut sudah dapat disewa. Untuk reservasi mungkin bisa cek disini: http://sarondeislands.com/

IMG_4123IMG_4117

Cakep kan? kan? kan? Hahahaha. Sayang aja kami disini cuman sehari :(. Oiya, jadi inget, nama Pulau Saronde ini pun dijadikan nama Pia, makanan khas Gorontalo yang biasa dibeli untuk oleh-oleh. Sekedar info, kalau mau beli Pia Saronde, tokonya ada di Jl. Sultan Botutihe 29 Kota Gorontalo Depan Gorontalo Mall, Kota Gorontalo. Kalau takut nyasar, bisa sewa bentor dan bilang saja minta diantar ke Pia Saronde. Saya juga sempat membeli Pia merk lain yang tokonya berada disebelah hotel tempat saya menginap. Menurut saya justru pia yang merk lain itu lebih enak jika dibandingkan dengan Pia Saronde. Tapi, balik lagi ke selera masing-masing ya.

4 Jan 2016, kami kembali ke Jakarta. Seperti keberangkatan kemarin, penerbangan Gorontalo – Jakarta harus transit dulu di Makassar. Alhamdulillah kami tiba dirumah dengan selamat. Semoga lain waktu masih bisa menikmati lukisan Alloh yang luar biasa. Aamiin. Ok, berikut ini ada informasi yang mungkin berguna bagi traveller lain yang ingin berkunjung ke Gorontalo, saya comot dari blognya Cemon:

  1. Penerbangan dari jakarta ke Gorontalo, dilayani oleh beberapa maskapai. Tempo waktu saya ambil direct flight dengan garuda transit 30 menit di makassar.
  2. Di Gorontalo ada dua Operator Diving; salah satunya adalah Miguel’s Diving. Miguel’s adalah operator lama di Gorontalo, pemiliknya bernama Rantje Allen. Saya sangat recomen operator dive ini..
  3. Ada banyak penginapan dikota ini, tempo waktu saya menginap di Grand City Hotel. Kamarnya nyaman, dan dekat dengan pusat kota.
  4. Transportasi yang paling banyak dan sering digunakan adalah Bentor (becak Motor). harga untuk jarak terdekat adalah Rp. 5000 untuk jarak menengah biasanya sekitar Rp. 15000.
  5. Umumnya penduduk disana sangat ramah dan baik sekali. Bagi mereka pendatang yang berkunjung ke Gorontalo adalah keluarga jauh yang mengunjungi mereka, sehingga mereka akan membantu dan menjamu dengan senang hati.
  6. Oleh-oleh khasnya adalah Kue PIA. Tokonya ada di seberang Mall Gorontalo. Satu kotak Isi 10 buah harganya Rp. 40.00. Bila mau beli kain karawung, bisa langsung ke pengrajinnya atau ke pasar lama. ada beberapa kios yang menawarkan, kisaran harga dari Rp. 55.000 sampai dengan ratusan ribu. Tinggal pilih.

Gorontalo, Hidden Paradise

IMG_3924

Mungkin sudah banyak yang tau kalau Aceh mendapat julukan “Kota Serambi Mekkah”. Lalu bagaimana dengan “Kota Serambi Medinah”? Kota mana yang mendapat julukan tersebut? Ya, Kota Gorontalo. Ibu Kota Provinsi yang ke-32 di Indonesia ini juga biasa disebut Hulontalo oleh masyarakat setempat. Sebelumnya, Gorontalo termasuk dalam Provinsi Sulawesi Utara. Namun pada tahun 2000, Provinsi Gorontalo yang terdiri dari Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo terlepas dari Sulawesi Utara.

Untuk kesekian kalinya, saya teracuni oleh ajakan Cemon untuk menghabiskan liburan akhir tahun sekaligus tahun baru di Gorontalo. Awalnya sih saya ga tertarik untuk pergi ke Gorontalo. Emang apa bagusnya sih? Cuuusss…mulai browsing sana sini. Daaaan….kok cakep yah, gimana kalau lihat langsung? Yooook…mon, berangkat kita. Satu lagi yang buat saya demen banget jalan ama Cemon, karena doi kalau bikin rencana tuh keren banget. Transportasi, penginapan dan nanti disana mau ngapain aja, semua udah diatur. Pokoknya saya cuman tau beres aja, hehe.. Nuhun yak, Mon :).

Kamis, 31 Des 2015, saya dan Cemon berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pukul 07:15am dan tiba di Bandar Udara Jalaluddin pukul 01:00pm dengan sebelumnya transit di Makassar kurang lebih 30 menit. Lalu kami dijemput oleh staf dari Miguel’s Diving dan langsung menuju ke penginapan kami di Grand City Hotel. Setelah istirahat, kami sempat jalan-jalan dan mencoba bentor alias becak motor yang merupakan alat transportasi yang mirip dengan becak tapi menggunakan sepeda motor, bukan sepeda seperti yang sering dijumpai di Jakarta.

bd4bd49fa4602f055ec5d8426932625f.jpg
Dari senyumnya Cemon bisa ketahuan, betapa senangnya dia bisa jadi endorse bedak fifa mencampakan si pemilik bentor :))

Keesokan harinya kami dijemput oleh sang Dive Master dan pemilik Miguel’s Diving, Rantje Allen. Agenda kami hari ini cukup padat dengan 3x dive dan makan siang dilakukan di tengah laut. Oiya, yang diving saat itu tidak hanya kami berdua, tetapi ada satu rombongan lain, diver dari Malaysia dan juga Singapore yang akan bergabung. Di hari berikutnya aktivitas kami masih diisi dengan diving, namun kami hanya melakukan 2x dive. Taman laut Olele yang menjadi destinasi kami memiliki beberapa dive spot seperti  Sand Bowl, Otje Garden, Jin Cave dan spot lain yang saya lupa namanya :D.

IMG_3829IMG_3739IMG_3477IMG_3482IMG_3642IMG_3552IMG_3539IMG_3519IMG_3518IMG_3488IMG_3896IMG_3806

Selama 2 hari diving, kami tidak hanya ditemani oleh Rantje saja, tetapi ada Bang Yunis dan Boka. Mereka sangat membantu kami saat dibawah dan selalu mengawasi peserta diving. Sebelum menyelam, Rantje selalu memberikan instruksi yang sangat jelas. Bang Yunis tidak hanya mendampingi kami menyelam, beliau juga memiliki ilmu dan skill photography yang waw, sehingga sering membantu dan memberikan masukan kepada para penyelam yang hobi micro underwater photography. Bang Boka ini yang membantu saya saat saya mengalami kesulitan saat menyesuaikan bouyancy, eh ternyata kurang pemberat pemirsaah. Udah gitu Bang Boka juga yang nemenin saya ketika buddy saya yang tidak lain adalah Cemon MENGHILANG!! Ternyata dia udah ke surface duluan -,-“

Dua hari diisi dengan aktivitas diving rasanya ga cukup. Perairan yang tenang, ragam biota laut yang begitu kaya, serta pemandangan bawah laut yang luar biasa bikin betah lama-lama disana. Aah..beruntungnya saya tinggal di Indonesia. Keesokan harinya, kami pergi ke Pulau Saronde. Ada apa disana? Tunggu next post saya ya 😀

Miguels diving

Alor, NTT (Part 2)

Hari 4

Loh? Udah hari keempat ajah? Hehehe, untuk cerita sebelumnya ada disini.

Seperti pendapat beberapa orang bahwa Alor tidak hanya cantik bawah lautnya saja, tetapi semuanya bagus. Setelah 2 hari kemarin kami habiskan dilaut, hari ini kami diajak oleh Mba Wati ke beberapa tempat. Pemandian Air Panas Tuti Adagae menjadi destinasi pertama kami. Tempat ini merupakan sumber air panas alami dan dipercaya kalau air panas ini dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Tapi, untuk sampai ke mata air panasnya, kami harus berjalan cukup jauh, karena belum ada jalan yang bisa dilewati oleh mobil.

DSCF5057
Lokasi ini jadi titik start kami berjalan kaki menuju tempat pemandian air panas
DSCF5080
Jalannya menurun dan ga ada cowo ganteng atau batang pohon yang bisa dijadiin pegangan hidup
DSCF5108
Nah, sebelah kiri udah mulai keliatan aliran air panasnya
DSCF5150
Hore sampeeeee
DSCF5112
Air panasnya menyembur dan uap panasnya aduhai deh, bisa buat sauna
DSCF5146
Ga ada yang kuat lama-lama berdiri disekitar sumber air panas T_T
DSCF5237
Seger banget Dina & Gede, kelapa nya loh maksudnya
DSCF5233
Sebelum pulang, sempet poto2 dulu. Siapa lagi yang niat bawa balon -,-“

Selanjutnya kami diajak ke Desa Takpala oleh Mba Wati. Di desa ini terdapat rumah-rumah tradisional yang dihuni oleh Suku Abui. Disini kita dapat menyewa pakaian tradisional Suku Abui dengan membayar Rp.50.000,-/orang. Tidak hanya itu, para tetua adat yang kami jumpai pun tidak segan berbagi cerita dengan kami mengenai kehidupan Desa Takpala yang oleh pemerintah saat ini sudah disahkan menjadi Desa Wisata.

IMG_3199IMG_3141DSCN0651IMG_3178

Di Desa Takpala, pengunjung dapat membeli berbagai buah tangan khas Suku Abui seperti kain tradisional yang mereka tenun secara tradisional dan beberapa aksesoris seperti gelang, kalung dan gantungan kunci.

IMG_3114IMG_3124IMG_3126IMG_3136

Karena hari pun sudah sore, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Pantai Pasir Putih untuk liat sunset. Ah, gimana ga jatuh cinta, sepanjang jalan disuguhin pemandangan laut dan pantai yang cantik, tiap sore dikasih liat golden sunset yang luar biasa. Jadi pengen balik lagi. Someday ya. Aamiin.

f

DSCN0811IMG_3305IMG_3324IMG_3329DSCN0852DSCN0836


Hari 5

Saatnya kembali kerumah setelah senang-senang di Alor. Perjalanan pulang dari Alor ke Kupang, langsung lanjut Kupang – Denpasar – Jakarta. Alhamdulillah kami semua selamat sampai rumah masing-masing. Semoga lain waktu masih dikasih rezeki dan waktu sama Alloh untuk bisa explore bumi Alloh lainnya.


Oiya, berikut informasi mengenai akomodasi dari Jakarta ke Alor. Saya salin dari blognya Cemon nih:

  1. Dari Jakarta Ambil Penerbangan ke Kupang, lalu lanjut penerbangan ke Alor. Ada dua maskapai penerbangan yang melayani rute kupang – alor, yaitu Wings Air dan Trans Nusa. Atau kalian bisa naik ferry dari kupang dengan waktu tempuh 12 Jam. Untuk harga tiket pesawat, saya cantumkan di bawah ya.
  2. Nginep dimana? Di kalabahi banyak penginapan, namun belum ada yang sekelas bintang-bintang. Kemarin saya menginap di Pelangi Indah sehari perorang kena Rp.275.000. Di dekat alun-alun ada homestay yang baru buka, 1 kamar pakai AC semalam perorang kena Rp. 130.000
  3. Operator Diving di alor umumnya di kelola oleh Bule, dan mereka agak sedikit ketat. Meraka hanya mau membawa para diver advance dikarenakan arus alor yang cepat. Kemarin saya dive dengan Bang Mansyur (085318278899)
  4. Untuk Guide lokal dan sewa kapal bisa hub Sam ( 082237878578).

Jumat, 29 Mei 2015 –> Jakarta – Kupang –> 15.45 – 21.10 (Garuda)        Rp.1.475.000,-

Sabtu, 30 Mei 2015 –> Kupang – Alor –> 07.00 – 07.50 (Transnusa)  Rp.   483.000,-

Selasa, 02 Juni 2015 –> Alor – Kupang –> 13.40 – 14.40 (Lion Air)      Rp.   450.000,-

Selasa, 02 Juni 2015 –> Kupang-Denpasar- Jkt–> 16.15 – 20.25 (Garuda) Rp.2.374.000,-


TOTAL   Rp.4.782.000,-

Alor, NTT (Part 1)

Oke, ini pun latepost :(. Ternyata jadi mahasiswi S2 itu tugasnya sekebon T_T *mulaicarialibi hahahaha. Baiklah, yuk lanjut. Jadi, tahun kemarin, saya bersama segenap tim trip ambon tapi minus Amel tapiii plus Dina pergi ke Alor. Seperti trip-trip sebelumnya, saya berhasil diracunin sama cemon buat ke Alor. Gimana ga, tiap hari dicekokin foto-foto cakepnya pemandangan bawah laut Alor. Maaaaak…ga tahan! Mei 2015 saya bersama cemon, gede, sapi, dan dina akhirnya kesampean juga mengunjungi Alor. Sebelumnya, saya ga tau Alor itu dimana, I failed maps :D. Ternyata, Alor itu salah satu pulau yang  termasuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur, posisi Pulau Alor itu sendiri berada di atas kota Kupang. Yang masih bingung kaya saya, nanti saya kasih petanya ya:

Capture

Alor memiliki nama yang pendek hanya empat huruf tetapi keindahan di darat dan di bawah lautnya sangatlah panjang bahkan tak cukup satu minggu untuk menggapainya. Berlokasi di bagian timur Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebuah tempat dengan kekayaan bawah laut yang mengagumkan meski belum tersohor. Akan tetapi, para penyelam yang pernah menjajalnya menceritakan dari mulut ke mulut bahwa keindahan Alor tak kalah indah seperti Raja Ampat atau Taman Nasional KomodoKarl Muller dalam bukunya “East of Bali”, menyebutkan bahwa Alor memiliki air laut yang bersih, biota laut yang beraneka ragam, dan terdapat titik-titik selam yang dapat dinikmati pada malam hari. Ia menyebut Alor sebagai taman laut kelas dunia (Sumber).

Hari 1

Memang akomodasi menuju Alor masih agak sulit. Untuk penerbangan dari Jakarta ke Alor belum ada yang langsung, jadi harus lewat Kupang. Kami berangkat dari Jakarta tanggal 29 Mei 2015 pukul 15.45 dan tiba di Kupang pukul 21.10. Karena sudah malam dan penerbangan ke Alor adanya keesokan harinya, jadi kami menginap di Hotel La Hasienda. Hotelnya tuh nyaman banget dan lokasinya ga jauh dari bandara. Sayang kami hanya semalam saja disini.

Hari 2

Lalu esok paginya kami berangkat ke Alor dengan waktu tempuh Kupang – Alor kurang lebih 50 menit. Setibanya di Alor, kami dijemput oleh Mba Wati dari 8elapantrip dan langsung menuju penginapan di Kalabahi. Kalabahi adalah ibukota Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

IMG_3379

Hari pertama di Pulau Alor, NTT kami isi dengan aktivitas snorkling dan jelajah pulau-pulau yang ada di sekitar Alor Besar. Dari hotel, kami menuju pelabuhan dengan waktu tempuh kurang lebih 15-20 menit menggunakan mobil. Baru sampai pelabuhan aja udah pada girang banget :)) pemandangannya cakeeeep.

DSCF2087
Gede, Sapi. Cemon, Cahe, Dina

DSCF2113DSCF2093

DSCF2106
Kodok loncat

Dari pelabuhan, kami menggunakan kapal yang sudah disewa oleh Mba Wati bersama Bang Mansyur dan Sam sebagai ABK untuk mengunjungi Pulau Sebanjar untuk snorkling.

DSCF2120
Atas: Sam; Bawah: Dina, Cahe
DSCF2127
Formasi lengkap aheeey \(^o^)/
DSCN0462
Yuuk, yang mau ke Alor, bisa lewat 8elapantrip yaaah.
DSCN0454
Siap-siap nyemplung

DSCN0479DSCN0444

DSCN0313
Transaksi di bawah laut 😀

DSCN0384

DSCN0553
Sam’s in action

DSCN0555DSCN0448DSCN0381DSCN0343DSCN0328

Huaaa…bening banget. Pantes aja banyak yang bilang kalau Alor itu terkenal dengan crystal water nya. I believe that.

DSCN0505DSCN0525

DSCF4082
Dina
DSCF4024
Sapi & Gede
DSCF4169
Susah yee, cewe-cewe klo udah ngumpul mo dmn kek tetep aj rumpi

DSCF4140

Hari 3

Nah, karena kemarin rasanya kurang puas cuman snorkling aja, jadi setelah minta tolong sama Bang Mansyur, saya sama cemon bisa diving deh. Sebenarnya ada operator dive di Alor, cuman udah keburu full, tapi bukan Bang Mansyur namanya kalau ga bisa bikin mimpi saya buat diving di Alor jadi kenyataan #tsaaahelaaaah. Oiya, karena baru saya dan cemon aja yang punya diving license, jadi sisanya masih lanjut snorkling. Kami pun di ajak ke Pulau Ternate sebagai lokasi untuk diving.

IMG_0313IMG_0302IMG_0299IMG_0345DSCN0570DSCN0602

IMG_0307
Ini namanya Bubu, alat tradisional suku Alor untuk menangkap ikan

Selesai diving, kami diajak oleh Mba Wati untuk istirahat di Pulau Kepa. Judulnya sih istirahat, tapiiii…we took so much pictures there

DSCF4205DSCF4241

Ada kejadian yang agak serem ketika kami akan kembali dari Pulau Kepa ke Kalabahi. Di tengah-tengah laut, kapal yang kami tumpangi mogok. Sam dan Bang Mansyur sudah berusaha untuk ngebenerin mesin kapal, tapi masih ga bisa juga :(. Tiba-tiba, arus laut terasa semakin kenceng, kapal mulai goyang ga karuan. Lalu muncul instruksi dari Mba Wati supaya kami menggunakan pelampung/life vest. Sapi sama Gede yang paling panik saat itu, mulut komat kamit baca do’a sama dzikir. Lalu, tiba-tiba aja Mba Wati dan Sam saling tunjuk ke arah laut, ternyataaaaa….ada hiu yang mendekat ke kapal kita. Ya Alloh, mesin kapal mati, udah gitu ada hiu T_T. Alhamdulillah, setelah si hiu muterin kapal kita, eh itu hiu langsung aja lanjut pergi. Sempet kepoto sih sirip hiunya, tapi lupa di kamera siapa. Dasar manusia jaman sekarang, lagi begitu pun ga lupa loh buat poto2 :D. Daaaan, kami berhasil sampai ke pelabuhan dengan cara kapal kami ditarik sama kapal lain yang datang *sujudsyukur

DSCF5052
Ketika bala bantuan datang

Sesampainya di pelabuhan, eh pas senja, liat sunsetnya luar biasa.

DSCF4387DSCF4429

Untuk perjalanan hari berikutya, saya share di post selanjutnya yaa, biar yang ini ga kebanyakan. See y ^^

Dataran Tinggi Dieng

Well, this post is definitely a really really late post. Saya dan beberapa teman saya mengunjungi Dataran Tinggi Dieng pada April 2015. It’s 2016 now!! :D. Yaaah…walaupun udah keburu basi gapapa deh yah, siapa tahu tetep ada manfaatnya #ngeles.

Gara-gara gatel liat hari libur yang berentet di kalender, tapi kok ya belum ada rencana buat kemana gitu. Nanya tim ambon ternyata mereka juga sama, ga ada rencana buat keman mana.  Duuuh…tapi kaki udah gatel mau jalan-jalan. Finally, saya samperin deh si anak gunung. Murah banget deh pokoknya, demi kesampaian jalan-jalan, saya mau ikutan travelling ala-ala si anak gunung. Padahal seumur hidup belum pernah yang namanya naik gunung. Eh, pernah deng, gunung mas di puncak ama yang di cibodas ga tau namanya apa :D. Akhirnya tercetus lah ide buat pergi ke Dieng. Itu dimana? Hahahaha. I had no idea that time. Manfaatin internet kantor buat cari informasi mengenai Dieng. Cakep-cakep ya fotonya. So, lets go…

Tim Dieng kali ini terdiri dari saya sendiri, cemon, sapi, dan akmal si anak gunung yang bakalan jadi centengnya. Sebenarnya ada satu orang lagi yang rencananya mau gabung sama kami, tapi pas hari H doi kena musibah, jadi batal ikut deh.

Ternyata Dieng Plateau berada pada ketinggian 2093 mdpl, terletak di antara dua kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo (sumber). Setelah baca-baca beberapa informasi mengenai Dieng, udah kebayang kesana naik apa, nanti mo ke tempat wisata apa aja, dan pulang naik apa. Kami mutusin buat naik bis dari Jakarta menuju Dieng. Tapi pas ditelepon, tenyata tiket bis hanya bisa dibeli pas hari keberangkatan. Ya udah gpp, toh kami juga baru akan berangkat hari kamis malam setelah pulang kantor. Jadi rabu malam kami packing, kamis pagi ketika berangkat ke kantor udah bawa ransel dan segala keperluan buat ke Dieng.

Manusia hanya berencana, Alloh lah yang menentukan #tsaaahelaaahhh. Pas hari H mau beli tiket bis dengan inisial D, ternyata jam keberangkatan nya ga cocok T_T. Akhirnya coba ganti ke bis SJ, eh sama juga TT___TT. Mana udah kadung bawa ransel beserta perintilannya, kan malu kalo sampe ga jadi berangkat. Akhirnya centeng berbicara, katanya kita nekat aja ke Terminal Rawamangun, pasti ada kok bis kesana. Yoweslah, turutin aja apa kata centeng kali ini.

Meeting point keberangkatan buat ke Dieng adalah Terminal Rawamangun. Saya sama si centeng berangkat dari kantor naik taxi buat ke terminal. Mana ujan, becek, macet. Cemon sama sapi ternyata udah janjian buat ke terminal bareng. Saya sama centeng nyampe duluan, langsung nanya-nanya tiket bis, nego sana sini, sampe akhirnya kebeli lah 4 tiket Bis Handoyo. Alhamdulillah yah. Akhirnya, boleh deh bikin status “Dieng, We’r coming” hakhakhak.

Kan dari informasi yang saya dapat, perjalanan ke Dieng itu kurang lebih 8 – 10 jam, nah karena kami berangkat jam 9 malam dari Terminal Rawamangun, kemungkinan besok pagi udah sampe. Tapiiiii….ini udah lebih 8 jam kok ya ga nyampe-nyampe. Mana dimana-mana macet. Yaah, namanya juga long weekend, pasti banyak yang liburan atau pulang kampung, jadi ya macet deh dimana mana. Udah gitu AC bis ga berasa, asli gerah.

Setelah sempat berhenti buat sarapan #popmie kami lanjut lagi. Eh eh tapi yah, bis nya mogok pemirsah T_T. Duuh..mana jarak ke tujuan masih lumayan jauh. Akhirnya setelah tanya-tanya ke penumpang lain, kami memutuskan buat naik angkot, karena ga bisa dipastiin itu bis bakalan mogok sampe kapan. Angkot yang kami naikin ini ternyata disebutnya mikro, mirip dengan metromini, cuman mikro ukurannya lebih kecil. Kami naik mikro sampai di parakan. Karena udah siang, kami makan siang dulu di parakan. Abis itu lanjut lagi naik angkot buat ke Dieng. Alhamdulillah ada mas-mas yang bantuin dan ngasih tau kami angkot yang harus kami naikin buat ke Dieng.

DSC_1605
Nyarap popmie #bukanendorse
DSC_1606
Bisnya mogok T_T
CSC_1644
Korban bis mogok

Sampeeee..hore sampeee. Beneran udah sampe nih. Pas liat jam, jam 4 sore. Berarti total perjalanan Jakarta – Dieng 18 jam. WOW!!

Ehiya pas tadi naik angkot, kami ternyata penumpang terkahir dong. Hahahaha..kan karena kami belum pesen penginapan, jadi ya pasrah deh mau diturunin dimana sama si Bapak angkotnya. Eits tapi tunggu dulu, centeng mulai beraksi, ngajak ngobrol si Bapak angkot, tanya penginapan dimana? Tempat makan dimana? Bapak tinggal dimana? Punya anak cewe cantik yang masih single ga,pak? #eh pertanyaan terakhir ga sempet kesampean karena si angkot tetiba berhenti. Ternyata si Bapak mau nunjukin beberapa penginapan. Udah banyak yang penuh. Tapi Alhamdulillah masih dapet penginapan. Sebenernya sih itu rumah warga, bukan penginapan yang biasa disewa, tapi karena ternyata peak season jadi sang empunya rumah mau menyewakan 2 kamar dirumahnya. Ada kamar mandi dalam juga loh di setiap masing-masing kamarnya. Jadi centeng dikamar sendirian, kami yang cewe-cewe di kamar yang paling depan. Horeeeee…

Sebelum si Bapak angkot nya pulang, kami nanya ke Bapak apa bisa angkotnya kami sewa untuk jalan-jalan selama disini. Teryata si Bapak mau. Dengan harga Rp.500.000,- seharian. Dan besok pagi kami akan dijemput sama si Bapak jam 3 pagi buat liat sunrise.

Ada kejadian yang nyebelin pas di penginapan. Jadi, cewe-cewe kan mau mandi, tapi airnya dingin luar biasa. Eh tapi untung aja dirumah itu ada satu kamar mandi luar yang ada air panasnya. Trus nih yah, si centeng dengan meyakinkannya bilang ke kami kalau mau mandi, jangan pake air panas, pake air biasa aja, jadi biar nanti suhu badan ikut menyesuaikan dengan kondisi dingin disini, jadi kalau udah gitu ntar ga bakalan kedinginan lagi. Dibilangin kaya gitu ya kami yang cewe-cewe nurut aja. Jadilah kami mandi pake air sedingin air es itu. Ya Alloh, asli dingin bener. Pas kami yang cewe-cewe udah selesai mandi, udah cakep, udah wangi, trus mau ke ruangan tengah buat minum teh yang udah disediain sama pemilik rumah, kami nge-gep-in si centeng baru kluar dari kamar mandi luar yang ada air panasnya itu tuh. Jadi dia mandi pake air panas ternyata. Kunyuuuuuk!!!!!!!! Tadi aja bilang ny jangan mandi pake air panas ini itu apa lah segalama macem, tapi sendirinya mandi pake air panas. Diiiih! Kena tipu abis2an ini sih -,-“.

Mari kita lupakan kejadian kejadian nyebelin ituh dengan makan malem yang banyak. Ada nasi goreng, tongseng, pecel ayam. Perut kenyang, tidur pun tenang. Eh ga deng, tidur ga bisa tenang. Ga kuat sama dinginnya T_T.

Jam 2 pagi alarm bunyi. Siap-siap berangkat buat lihat sunrise. Jam 3 si Bapak udah jemput kita di penginapan. Sampe di Bukit Sikunir ramenyaaaa minta ampun >,<. Mo naik ke bukit aja ngantri pake macet. Baru naik beberapa meter tiba-tiba perut saya sakit ga karuan, langsung duduk trus istirahat, sempet kepikiran buat turun aja ga usah jadi naik ke bukit buat liat sunrise. Eh tapi tiba-tiba sakitnya ilang #aneh. Ya udah Alhamdulillah kalo gitu, mari lanjutin perjalanan. Kira-kira dari kaki bukit sampai ke atas itu 1 jam. Pas sampai di atas ternyata lebih rame lagi, udah kaya lautan manusia. Sampe kami bingung mo bikin duduk dan gelar tiker dimana. Ini dia yang ditunggu-tunggu. Sunrise dari Bukit sikunir.

IMG_1724IMG_1733IMG_1766IMG_1770IMG_1781IMG_1789IMG_1793IMG_1823IMG_1874IMG_1899

IMG_1870

Abis liat sunrise, kami turun ke  Telaga Cebong yang berada di kaki Bukit Sikunir. Terletak di desa tertinggi di Jawa yaitu Desa Sembungan, Telaga Cebong merupakan telaga yang terjadi dari bekas kawah purba, dulunya memiliki luas sekitar 18 ha, akan tetapi lama kelamaan mulai menyempit dan tersisa sekitar 12 Ha.Lokasi Telaga Cebong berada disebelah barat  Gunung Sikunir dengan bentuk menyerupai cebong/berudu mungkin dari bentuk itulah akhirnya telaga ini diberi nama telaga cebong (sumber).

IMG_1929
Telaga Cebong

Perjalanan dilanjutkan ke Telaga Warna. Kami sempet sarapan dulu di dekat Telaga Warna. Di beberapa sudut telaga masih ada gelembung-gelembung yang sangat mungkin berasal dari bagian dalam telaga yang merupakan mata air dan sedikit bercampur dengan belerang yang apabila terkena sinar mata hari akan memantulkan cahaya yang berwarna warni, soal penyebab terjadinya warna ini memang masih simpang siur. Ada juga yang mengatakan dikedalaman telaga terdapat sulphur yang apabila terkena cahaya akan memantulkan cahaya yang berwarna warni (sumber).

IMG_1945IMG_1959IMG_1963

Lanjut lagi ke Kawah Sikidang. Nama Sikidang di ambil dari kata “KIDANG” yang dalam bahasa Indonesia berarti Kijang. Binatang ini memiliki karasteristik yg suka melompat2. Seperti hal nya uap air dan lava berwarna kelabu yg terdapat di kawah sikidang ini selalu bergolak dan munculnya berpindah2 bahkan melompat seperti kijang (sumber).

IMG_1972
Kawah Sikidang

Candi Arjuna jadi tempat terakhir sebelum kami kembali ke penginapan. Kompleks Candi Arjuna biasa digunakan sebagai tempat pelaksanaan Galungan. Selain itu, kompleks ini kadang juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan ruwatan anak gimbal (sumber).

IMG_1986
Candi Arjuna

Kami kembali ke penginapan buat mandi dan packing, karena sore nanti kami akan pulang ke Jakarta. Karena macet yang luar biasa ketika berangkat, kami memutuskan untuk pulang menggunakan kerete api dari purwokerto. Sebelum kami diantar sama Bapak ke tempat buat naik bis ke purwokerto, kami sempat nyobain mie ongklok. Kata orang kalo ksini tapi ga nyobain mie ongklok ntar nyesel hahhaha. Mie ongklok itu kalo penampilannya mirip mie aceh tapi rasa jauh berbeda. Penasaran rasa mie ongklok gimana? Yuk jalan-jalan kesini 😀

Setelah makan kami diantar sama Bapak buat naik bis yang ke Purwokerto. Makasih Bapak udah mau nganterin dan nemenin kami selama disini. Sehat-sehat dan semoga banyak rezeki  ya,Pak. Semoga suatu saat bisa ketemu sama Bapak lagi.